AS dilaporkan menembak dua kapal sipil rute Oman-Iran dan menewaskan lima orang. (foto: AFP)
AS dilaporkan menembak dua kapal sipil rute Oman-Iran dan menewaskan lima orang. (foto: AFP)

5 Poin Kesepakatan Damai AS-Iran, Sepakat Akhiri Perang

Ilham Pratama Putra • 16 Juni 2026 13:05
Ringkasnya gini..
  • AS dan Iran menyepakati MoU damai yang mencakup gencatan senjata permanen dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
  • Iran berkomitmen membatasi program nuklir, sementara AS membuka peluang pencabutan sanksi secara bertahap.
  • Kesepakatan juga menyoroti konflik Lebanon, meski Israel menyatakan tetap mempertahankan zona keamanannya.
Jakarta: Amerika Serikta dan Iran menyepakati persyaratan untuk mengakhiri perang. Kesepakatan damai ini sekaligus membuka kembali jalur maritim strategis di Selat Hormuz
 
Hal ini tentu memberikan angin segar bagi pasar global yang sempat terguncang. Kesepakatan terbaru ini menandai terobosan terbesar sejak ketegangan dua negara akibat serangan gabungan AS-Israel ke Iran sejak Februari 2026.  
 
Konflik regional tersebut telah menewaskan ribuan orang. Perang juga mengacaukan pasar energi serta memicu kekhawatiran resesi ekonomi dunia.

"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai," tulis Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social miliknya pada Minggu, 14 Juni 2026.
 
Nota Kesepahaman (MoU) damai ini dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026. Meski perincian teks perjanjian belum dipublikasikan secara utuh, pengumuman ini disambut positif oleh para pemimpin dunia.
 
Berdasarkan keterangan kedua belah pihak bersama mediator dari Pakistan, berikut adalah poin-poin penting isi kesepakatan awal terkait perdamaian AS-Iran:

5 Poin Kesepakatan Damai AS-Iran

1. Mekanisme Gencatan Senjata

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan AS dan Iran telah menyepakati penghentian segera dan permanen atas seluruh operasi militer. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menambahkan bahwa draf MoU segera dipublikasikan setelah penandatanganan di Swiss.

2. Pembukaan Jalur Selat Hormuz

Presiden Donald Trump telah memerintahkan pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat Hormuz dipastikan kembali dibuka untuk seluruh kapal komersial mulai Jumat, 19 Juni. 
 
Menurut salah satu kantor berita di Iran, Fars, lalu lintas maritim di wilayah tersebut selanjutnya akan diatur oleh Iran. Terkait pengaturan tersebut Iran akan berkoordinasi dengan Oman.
 
Baca juga: Tak Hanya Tutup Selat Hormuz, Iran Ancam Serang Setiap Kapal yang Melintas
 

3. Program Nuklir Iran

Teheran menyatakan komitmennya untuk tidak memproduksi atau memperoleh senjata nuklir. Pejabat senior Iran menyebutkan pihak mereka akan membekukan aktivitas nuklir, menahan diri dari pengayaan uranium lebih lanjut, serta menghentikan perluasan fasilitas nuklir menjelang penandatanganan MoU.
 
Di sisi lain, pejabat Iran mengeklaim AS setuju mengurangi persediaan uranium yang diperkaya di dalam negeri. Donald Trump menegaskan tidak ada urgensi untuk mengekstrak persediaan material nuklir tersebut.
 
Disebutkan juga, Trump berjanji akan menerapkan rezim inspeksi yang kuat tanpa memberikan perincian spesifik. Sementara itu, Senator AS Lindsey Graham menegaskan kesepakatan akhir mengenai program nuklir ini wajib ditinjau dan disetujui oleh Kongres AS.

4. Sanksi Ekonomi dan Pemulihan Finansial

AS sepakat tidak memberlakukan sanksi baru selama proses menuju kesepakatan akhir berjalan. Sanksi minyak terhadap Iran akan dicabut bertahap untuk jangka waktu tertentu. 
 
Setelah kesepakatan final tercapai, seluruh sanksi dari AS dan PBB akan dihapus sesuai jadwal. Iran juga mengeklaim AS bersedia mencairkan aset mereka yang dibekukan senilai USD25 miliar (sekitar Rp407 triliun) melalui transfer tunai langsung, kerja sama regional, dan jalur kredit. 
 
Walau demikian, Trump sempat menyanggah dengan menyatakan Iran tidak akan diberikan uang tunai, meski sanksi tetap berpotensi dicabut. Selain itu, Washington bersama sekutu regional akan menyusun rencana rekonstruksi dan pembangunan untuk Iran dalam waktu 60 hari.

5. Nasib Konflik di Lebanon

Situasi di Lebanon menjadi poin cukup rumit lantaran Israel tidak terlibat dalam negosiasi ini. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan penghentian operasi militer berlaku secara permanen, termasuk di wilayah Lebanon. 
 
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mendesak penghentian total serangan Israel ke Lebanon dan menyatakan AS bertanggung jawab penuh atas penerapan kerangka kerja ini. Juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baghaei, juga menekankan teks kesepakatan menuntut penghormatan terhadap integritas teritorial Lebanon.
 
Namun, respons berbeda datang dari Yerusalem. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan militer Israel akan tetap bertahan di zona keamanan yang telah mereka rebut di Lebanon, Suriah, dan Gaza. Sikap ini diklaim telah disampaikan langsung oleh PM Benjamin Netanyahu kepada Trump. 
 
Sebelum MoU perdamaian diumumkan, Trump sempat menyatakan kesepakatan ini bertujuan membawa kedamaian ke Timur Tengah. Trump juga menegaskan tidak boleh ada lagi serangan Israel ke Lebanon, begitu pula sebaliknya, tidak boleh ada serangan dari kelompok Hizbullah yang didukung Iran terhadap Israel.
 
Baca juga: AS Tembak Kapal Sipil di Selat Hormuz, 5 Orang Dilaporkan Tewas

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA