Universitas Kristen Maranatha berkolaborasi dengan Lighthouse Photo Institute menggelar Pameran Fotografi bertemakan
Universitas Kristen Maranatha berkolaborasi dengan Lighthouse Photo Institute menggelar Pameran Fotografi bertemakan "Chinese Culture", Maranatha/Humas.

Universitas Maranatha Gelar Pameran Fotografi

Pameran Fotografi Kontemporer Tampilkan Peleburan Budaya

Citra Larasati • 07 Maret 2019 22:36
Bandung: Center of Chinese Diaspora Studies (CCDS) Universitas Kristen Maranatha berkolaborasi dengan Lighthouse Photo Institute menggelar Pameran Fotografi bertemakan "Chinese Culture" di Exhibition Hall Gedung B Universitas Kristen Maranatha, 4-8 Maret 2019.
 
Pameran ini menampilkan dua tajuk utama, yaitu: “Chinese Culture Heritage Trail in Bandung” dan “Home 9+1”.  Keduanya menampilkan topik mengenai akar budaya Tionghoa di Indonesia dengan pendekatan yang berbeda.
 
Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Irena Vanessa Gunawan, dalam pembukaan pameran
mengatakan, foto-foto yang dipamerkan dalam ‘Home 9+1’ mempresentasikan ruang pribadi atau private space sepuluh fotografer, tentang akar budaya Tionghoa di dalam kehidupan mereka sehari-hari melalui karya-karya fotografi kontemporer.

Sementara itu pameran ‘Chinese Culture Heritage Trail in Bandung’ merupakan hasil dokumentasi dari rangkaian kegiatan Heritage Trail yang sebelumnya telah diadakan pada tanggal 2-3 Februari 2019.  "Dokumentasi tersebut berupa aktivitas menyusuri jejak-jejak sejarah budaya Tionghoa di beberapa kawasan di Bandung," kata Irene.
 
Kepala CCDS Maranatha, Krismanto Kusbiantoro mengungkapkan, “Dalam Heritage Trail 2019 ini
para peserta workshop menyusuri, mencermati, dan mendokumentasi jejak-jejak historis budaya Tionghoa.  "Selain itu juga mencerna dan memperkaya diri mengenai sejarah di balik artefak-artefak bernuasa Tionghoa dalam keseharian masyarakat Kota Bandung," ujar Krismanto.
 
Sebelas fotografer, yang sebagian besar ternyata bukan merupakan fotografer profesional ini telah merekam subjek-subjek budaya melalui kacamata dan cara pandang mereka masing-masing.  Tampil dalam ruang pameran yang sama, adalah pameran fotografi kontemporer “Home 9+1”; merupakan kelanjutan dari pameran sebelumnya yang telah diadakan di Solo dan Salatiga. 
 
Baca:  Selain Kedokteran, Maranatha Juga Punya Jurusan Fashion Design
 
Shamow'el Rama Surya, fotografer dan inisiator proyek fotografi Home mengatakan, Pameran ini diadakan merespons munculnya berbagai isu sentimen rasial di Indonesia. "Sentimen yang menjadi alat politisasi selama masa kampanye itu pada kenyataannya ternyata tidak mewakili opini masyarakat pada umumnya," terang Shamow'el.
 
Shamow'el bersama sembilan rekan fotografer yaitu Aris Liem, Mohammad Reza Gemi Omandi, Ully Zoelkarnain, Edial Rusli, Mitu M. Prie, Muhammad Aslam, Edward Nugroho, Ichwan Susanto, dan Seno Resta melalui fotografi ditantang untuk melihat dan menampilkan hal sehari-hari yang ada di rumah masing-masing.
 
“Melalui dokumentasi fotografi ini kita ingin menunjukkan bahwa asimilasi atau peleburan budaya memang sudah terjadi di dalam kehidupan kita. Tujuannya adalah membawa pesan bahwa dalam keberagaman budaya perlu ada rasa saling mengerti sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia," ungkap Shamow'el.
 
Menurut dia, media fotografi digunakan untuk merekam suasana rumah-rumah yang dihuni oleh orang-orang yang secara sadar maupun tidak, telah terpapar oleh budaya Tionghoa. Akar budaya Tionghoa ini bila dicermati telah menjadi bagian padu dari keseharian mereka.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA