Dalam kondisi kedaruratan itu, Mu'ti ingin kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Salah satu upaya mendukung proses belajar mengajar di wilayah terdampak bencana dengan menghadirkan Kurikulum khusus daerah bencana.
Kurikulum ini bersifat adaptif dan fleksibel terhadap kondisi lapangan. Meski dalam kondisi tersebut, Mu'ti meminta satuan pendidikan tetap semangat agar dari berjalannya pendidikan muncul harapan.
“Yang penting adalah semangat kita untuk bangkit, semangat kita untuk dapat belajar, dan bersemangat meraih masa depan,” kata Mu'ti dalam Peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan Kota Medan Tahun 2025 di SMKN 7 Medan, Sumut, Minggu, 4 Januari 2026.
Mu'ti menyampaikan sebanyak 1.157 sekolah dapat kembali menjalankan kegiatan belajar mengajar pada Senin, 5 Januari 2026. Jumlah tersebut merupakan 95,23 persen dari sekolah yang terdampak.
"Terkait dengan musibah yang terjadi di Sumatra Utara, jumlah sekolah terdampak ada 1.215. Yang siap beroperasi untuk kegiatan belajar mengajar pada 5 Januari nanti 1.157 atau 95,23 persen,” ungkap Mu’ti.
Ia mengatakan sebagian sekolah hingga saat ini masih menjalani persiapan untuk pembelajaran darurat. Selain itu, masih ada sekolah yang masih dalam tahap pembersihan pascabanjir serta tanah longsor.
“Yang belajar menggunakan tenda ada 19 sekolah atau 1,6 persen. Dan masih dalam proses pembersihan 29 sekolah atau 2,4 persen. Insyaallah pada 5 (Januari) besok sekolah-sekolah tersebut sudah dapat dipergunakan sebagaimana mestinya,” jelas dia.
Baca Juga :
Alhamdulillah! 1.157 Sekolah Terdampak Bencana di Sumut Bisa Mulai Belajar Lagi Hari Ini
Kurikulum darurat bencana dibuat dengan penerapan terhadap tiga fase, yakni fase tanggap darurat, pemulihan dini dan pemulihan lanjutan. Tiap fase memiliki rentang waktu pelaksanaan.
Nah untuk lebih lengkapnya berikut fase dan bentuk penerapan kurikulumnya:
Fase Tanggap Darurat (0-3 bulan)
- Penyesuaian Kurikulum Minimum Esensial: kurikulum disederhanakan menjadi kompetnsi esensial seperti literasi dasar, numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, dukungan psikososial, dan informasi mitigasi bencana
- Pengembangan bahan belajar darurat
- Metode pembelajaran adaptif
- Dukungan psikososial terintegrasi dalam pembelajaran
- Asesmen yang sangat sederhana: Tidak ada asesmen formatif/sumatif yang kompleks, foksu pada kehadiran, keamanan dan kenyamanan murid
Pemulihan Dini (3-12 bulan)
- Kurikulum adaptif berbasis krisis: integrasi mitigasi bencana ke mata pelajaran yang relevan
- Program pemulihan pembelajaran fokus pada pemulihan literasi dan numerasi yang tertinggal akibat gangguan pembelajaran selama masa darurat
- Pembelajaran fleksibel dan diferensiasi: penyesuaian jadwal, metode, dan strategi pembelajaran sesuai kondisi satuan pendidikan dan peserta didik yang masih terdampak, memungkinkan pembelajaran luring, daring, atau blended/hybrid learning
- Pengelompokan berdasarkan capaian murid: bukan berdasarkan usia atau kelas semata, tetapi pada tingkat kemampuan aktual siswa
- Sistem asesmen transisi: asesmen berbasis portofolio, proyek sederhana, atau unjuk kerja; remedial berkelanjutan bagi murid terdampak berat; penilaian difokuskan pada perkembangan akademik dan sosial-emosional.
Pemulihan Lanjutan (1-3 tahun)
- Integrasi permanen pendidikan kebencanaan: materi kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana menjadi bagian berkelanjutan dalam kurikulum sekolah
- Penguatan kualitas pembelajaran: peningkatan kapasitas guru, pengembangan bahan ajar kontekstual kebencanaan, serta penguatan praktik pembelajaran berbasis proyek dan masalah nyata
- Pembelajaran inklusif berbasis ketahanan: memastikan seluruh murid, termasuk kelompok rentan, mendapatkan akses pembelajaran yang adil dan berkelanjutan
- Sistem monitoring dan evaluasi pendidikan darurat: evaluasi berkala terhadap efektivitas kurikulum adaptif, kesiapan sekolah menghadapi bencana, serta keberlanjutan pemulihan pembelajaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News