Sebanyak 10 dosen ITS mengikuti microfabrication training di Micro Fabrication Clean Room and Failure Analysis Laboratory, UniMAP pada 19–27 September 2026. Ini menjadi upaya memperluas kompetensi akademisi ITS dalam teknologi fabrikasi semikonduktor sekaligus membuka peluang pengembangan pendidikan, penelitian, laboratorium, dan kerja sama dengan industri.
Guru Besar ITS bidang Biomaterials and Surface Engineering, Agung Purniawan, menjelaskan penguasaan teknologi semikonduktor menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi digital. Semikonduktor merupakan komponen inti dari berbagai teknologi modern, mulai dari telepon pintar, komputer, pusat data, kendaraan listrik, hingga peralatan pertahanan.
“Karena itu, penguasaan teknologi dan rantai pasok semikonduktor tidak hanya berkaitan dengan industri dan ekonomi, tetapi juga dengan daya saing serta kemandirian teknologi,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, Senin, 28 September 2026.
Kepala Pusat Studi Material Maju dan Nanoteknologi ITS itu mengungkapkan industri semikonduktor diproyeksikan terus berkembang hingga mencapai nilai pasar sekitar USD1 triliun menjelang 2030. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi, Internet of Things (IoT), dan berbagai teknologi digital lainnya.
Indonesia masih memiliki ruang pengembangan yang besar dalam membangun ekosistem semikonduktor. Salah satu pembelajaran dapat diperoleh dari Malaysia yang telah merintis industri semikonduktor sejak 1971.
Kini, Malaysia memiliki sekitar 93 perusahaan semikonduktor yang banyak terkonsentrasi di kawasan Pulau Pinang dan Kulim High Tech Park, Kedah. Malaysia juga memiliki perusahaan foundry lokal, SilTerra, yang didirikan pada 1995 dan mulai beroperasi besar-besaran pada 2001.
Agung menyebut hal penting yang dapat dipelajari dari Malaysia bukan semata-mata jumlah perusahaan yang telah berkembang, melainkan proses pembentukan ekosistem secara bertahap dengan melibatkan perguruan tinggi. Sejumlah perguruan tinggi Malaysia turut berperan dalam pengembangan teknologi dan talenta semikonduktor, termasuk Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan UniMAP.
Dia menegaskan industri, perguruan tinggi, sumber daya manusia, fasilitas riset, kebijakan pemerintah, dan investasi harus tumbuh bersama sebagai sebuah ekosistem tidak bisa berdiri sendiri. UniMAP didirikan pada 2001 dan memiliki perhatian terhadap pengembangan ekosistem semikonduktor melalui pendidikan, penelitian, pengembangan talenta, fasilitas laboratorium, serta kolaborasi dengan industri.
Dosen ITS belajar di UniMAP. DOK ITS
Melalui pelatihan di UniMAP, para dosen ITS memperoleh pengalaman langsung mengenai simulasi dan proses fabrikasi Metal-Oxide-Semiconductor Field-Effect Transistor (MOSFET). Proses yang dipelajari mencakup tahapan fabrikasi perangkat semikonduktor, termasuk deposisi material secara presisi dalam skala sangat kecil, proses etsa, doping, hingga pengujian hasil fabrikasi.
Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat ditransformasikan menjadi penguatan proses pembelajaran, penelitian, pengembangan fasilitas laboratorium, serta pengembangan talenta semikonduktor di ITS.
“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kegiatan pendidikan, penelitian, pembangunan laboratorium, pengembangan talenta, serta kolaborasi yang lebih luas dengan industri,” tutur Guru Besar Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS ini.
Kolaborasi ITS–UniMAP sekaligus menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam mempercepat proses pembelajaran teknologi melalui kerja sama dengan institusi yang telah lebih dahulu mengembangkan kapasitas semikonduktor. Pengembangan industri semikonduktor nasional membutuhkan proses jangka panjang dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
Perguruan tinggi berperan menyiapkan talenta serta mengembangkan riset dan teknologi, sementara industri membutuhkan sumber daya manusia dan inovasi yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis. Pada saat yang sama, dukungan kebijakan pemerintah, kepastian investasi, infrastruktur, serta kesinambungan riset menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut.
Agung menyebut setidaknya terdapat dua pekerjaan yang perlu berjalan simultan. Pertama, menciptakan kebijakan yang memberikan kepercayaan dan kepastian bagi industri semikonduktor untuk berinvestasi dan berkembang hingga pada waktunya mampu membangun fasilitas foundry di Indonesia.
Kedua, perguruan tinggi perlu menyiapkan talenta yang menguasai teknologi semikonduktor secara menyeluruh, mulai dari desain, fabrikasi, karakterisasi, hingga pengembangan aplikasinya. “Industri membutuhkan talenta, sementara talenta membutuhkan ekosistem industri untuk berkembang. Perguruan tinggi menjadi salah satu jembatan penting yang menghubungkan keduanya,” ujar dia.
Kolaborasi ITS–UniMAP menjadi salah satu langkah awal dalam perjalanan panjang membangun ekosistem semikonduktor Indonesia. Meskipun masih merupakan langkah kecil, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi menjadi fondasi penting bagi pengembangan tahap berikutnya.
“Kolaborasi ITS–UniMAP adalah salah satu benih yang sedang disemai. Harapannya, benih kecil ini kelak ikut tumbuh menjadi bagian dari ekosistem semikonduktor Indonesia yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan,” ujar Agung.