ITB Ikut Amati Hilal Jelang 1 Syawal 1439 H
Salah seorang peneliti Observatorium Bossch Lembang sedang mencoba teleskop yang akan digunakan untuk pengamatan hilal Ramadan 1437 Hijriah/2016, MI/Depi Gunawan.
Jakarta: Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung melalui Observatorium Boscha akan membantu pemerintah dalam melakukan pengamatan hilal menjelang 1 Syawal 1439 Hijriah/2018 Masehi.

Kepala Observatorium Bosscha, Premana Wardayanti Permadi menyatakan, sebagai institusi pendidikan dan penelitian di bidang astronomi, Bosscha selalu ikut melaksanakan kegiatan pengamatan bulan sabit muda pada hampir setiap bulan.


"Begitu juga pada bulan sabit yang ingin diamati pada 14 Juni 2018, yakni bulan sabit penanda beralihnya bulan Ramadan ke bulan Syawal dalam kalender Hijriah 1439 H," kata Dosen yang akrab disapa Nana ini dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa, 12 Juni 2018.

Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang mengacu kepada siklus periodik fase bulan.   Urutan kemunculan fase bulan digunakan sebagai penanda waktu dan periode dalam kalender lunar (bulan sabit sebagai penanda awal, atau akhir bulan dan bulan purnama menandakan pertengahan).  

"Satu bulan pada kalender lunar ditetapkan sebagai panjang waktu atau periode satu siklus bulan mengeliling Bumi, yakni selama rata-rata 29,53 hari (disebut periode Sinodis)," terang Ketua Kelompok Keahlian Astronomi ITB ini.

Baca: Mendikbud Memilih Salat Idulfitri di Jakarta

Penghitungan hari dalam kalender Hijriah dimulai saat matahari terbenam, sedangkan penetapan awal bulan pada kalender Hijriah dimulai setelah terjadi konjungsi.  Konjungsi adalah saat posisi bulan dan matahari berada pada posisi garis bujur ekliptika yang sama.

Konjungsi ditetapkan sebagai batas astronomis antara bulan yang sedang berlangsung dengan bulan berikutnya dalam sistem kalender lunar.  Pada saat konjungsi, matahari, bulan, dan bumi dalam konfigurasi segaris, sehingga bulan berada pada fase bulan mati diamati dari permukaan Bumi. 

"Peralihan bulan dalam kalender Hijriah menjadi menantang, ketika kita masukkan faktor 'melihat' atau 'sighting' bulan sabit setelah konjungsi terjadi sebagai kriteria," jelas Nana.

Terlepas dari perbedaan kriteria yang muncul di masyarakat, keberhasilan teramatinya bulan sabit muda yang tipis secara astronomis merupakan kombinasi dari banyak faktor penentu.  Antara lain, posisi relatif Bulan terhadap matahari dari posisi tertentu permukaan Bumi, usia bulan, porsi kecerahan bulan (iluminasi), dan tentu saja kondisi langit dan cuaca di sekitar horison.

Tim Observatorium Bosscha melaksanakan pengamatan hilal di Lembang (Jawa Barat) pada 14 Juni 2018. Pengamatan akan dilakukan menjelang sore hari hingga bulan terbenam guna memverifikasi interpretasi data astronomis posisi bulan.

"Dari Observatorium Bosscha, pada 14 Juni 2018, bulan akan diamati terbenam 36 menit 43 detik setelah (menyusul) Matahari," jelas Nana.

Berdasarkan kondisi tersebut, dikombinasikan dengan posisi proyektif Bulan yang dekat dengan matahari (elongasi sekitar 9,24 derajat), dan iluminasi rendah (0,66 persen), maka bulan sulit diamati dengan mata telanjang.

Observatorium Bosscha akan menggunakan bantuan teleskop optik dalam pengamatan ini. Di Indonesia, pihak yang berwenang menentukan awal Ramadan dan Syawal adalah pemerintah Republik Indonesia melalui proses sidang isbat.

Tugas Observatorium Bosscha adalah menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian tentang hilal kepada unit pemerintah yang berwenang jika diperlukan sebagai masukan untuk sidang isbat



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id