Ilustrasi Lebaran. Medcom
Ilustrasi Lebaran. Medcom

Lebaran Bukan Sekadar Kumpul Keluarga

Pendidikan hari raya idul fitri UNAIR Idulfitri 1443 Lebaran 2022
Renatha Swasty • 04 Mei 2022 09:33
Jakarta: Idulfitri biasa dimanfaatkan sebagai ajang kumpul keluarga. Sebagian besar orang rela menempuh jarak jauh agar bisa merasakan momen lebaran bersama keluarga.
 
Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Puji Karyanto menyebut tradisi lebaran tidak hanya sebagai ajang berkumpul dengan keluarga besar. Namun, mengenal lebih dekat semua kerabat.
 
Dia menuturkan momen lebaran selain melepas rasa rindu pada keluarga juga dimanfaatkan untuk saling silaturahmi. Dia menilai lebaran sebagai ajang kumpul keluarga merupakan tradisi yang sangat bagus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kita tahu salah satu konsep kekerabatan yang ada di Nusantara itu kan rasa guyub. Dan halalbihalal itu sebenarnya merupakan ekspresi rasa keguyuban antar kerabat yang bertemu saat momentum lebaran,” tutur Puji.
 
Dia menyebut tradisi lebaran yang identik dengan silaturahmi telah mengalami pergeseran makna. Awalnya, momen lebaran dimanfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga, mengunjungi kerabat, dan mengenal sanak saudara. Kini, memiliki banyak makna, misalnya menghindari perkawinan antar kerabat yang masih terlalu dekat.
 
“Awalnya sebenarnya kan unjung-unjung itu bukan sekadar saling sapa tetapi juga kalau orang Jawa mengatakan ngambah bature,” tutur dia.
 
Puji menuturkan tradisi lebaran silaturahmi atau unjung-unjung yang tadinya sebagai tradisi keluarga telah diperluas dan diadopsi oleh instansi, baik pemerintah atau swasta dengan konsep halalbihalal. Kini, hal itu cenderung dimaknai dengan berkumpulnya banyak orang di sebuah tempat untuk saling bermaaf-maafan.
 
“Jangan-jangan itu akan berhenti di salam-salaman saja tapi sebenarnya siapa yang salaman juga tidak kenal, karena sangat berbeda jika berkunjung ke rumah, silaturahmi dengan keluarga terbatas,” tutur dia.
 
Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo) itu mengungkapkan agar momen lebaran lebih intens sebaiknya tidak membuat acara keluarga yang terlalu besar. Hal itu lantaran silaturahmi saat momen lebaran tidak hanya untuk bersalaman tetapi juga berkomunikasi dan membangun hubungan baik antar keluarga.
 
Dia menyebut halalbihalal bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Tetapi, merekatkan kembali yang sudah renggang.
 
“Jadi, kalau terlalu besar situasinya, terlalu banyak mereka-mereka yang harus bertemu, ya itu yang terjadi pasti semiotika nama, semiotika wajah orang yang bersalaman sudah tidak tahu,” ujar dia.
 
Baca: Hati-hati, Jasa Penukaran Uang Bisa Bikin Riba Fadhl
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif