Ubah Toilet Jadi Perpustakaan Sekolah
Kartika Isnaini pustakawati di SDN 173/V Tanjung Benana, Tanoto/Humas
Jakarta:Perpustakaan mini seluas 2 x 3 meter yang berasal dari pemanfaatan sebuah toilet, tak membatasi ruang Kartika Isnani, pustakawati sekolah, dalam menggerakan minat baca siswa. Semangatnya tetap menggelora, bahkan hingga perpustakaan itu kini telah berukuran 36 meter persegi.

Tanoto Foundation mengapresiasi dua pustakawan penggerak minat baca di Jambi dan Sumatera Utara. Keduanya berhasil menggerakkan perpustakaan di wilayah masing-masing, meski mengalami keterbatasan ruang dan dana. 


Salah satunya adalah Kartika Isnaini pustakawati di SDN 173/V Tanjung Benanak, yang tergerak hatinya, melihat 14 tahun sekolah tempatnya mengabdi hidup tanpa perpustakaan.  Sekolah itu berada di perkampungan transmigrasi SP3 Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Sejak berdiri pada 1996 sampai 2011, sekolah tempat Kartika mengajar tidak memiliki perpustakaan. Mengutip data Kemendikbud 2018, sebanyak 36,22 persen sekolah dasar di Indonesia memang belum memiliki perpustakaan. 

"Keterbatasan ruang kelas dan tidak ada buku bacaan membuat kami belum memikirkan perlunya perpustakaan sekolah,” kata Pustakawati SDN 173/V Tanjung Benanak, Kartika, di Jakarta, Senin, 3 Desember 2018.

Baca: Lima Alasan Menarik Kuliah di Massey University

Ia baru mulai terinspirasi, setelah pada akhir 2011 sekolahnya mendapat bantuan buku bacaan dan pelatihan pengembangan budaya baca dari Tanoto Foundation.  “Kami memanfaatkan toilet rusak berukuran 2 x 3 meter, yang kemudian direnovasi menjadi perpustakaan sekolah," terangnya.

Ukuran perpustakaan yang kecil, tidak membatasi Kartika dalam menggerakkan budaya baca melalui perpustakaan ini. "Buku-buku bacaan mulai kami sebarkan ke pojok-pojok baca di semua kelas. Saya pustakawati yang mengatur sirkulasi pembaruan bukunya," jelasnya. 

Ia menyadari, budaya baca bisa timbul dari adanya sarana dan prasarana perpustakaan. Ia bersama kepala sekolah dan para guru memikirkan cara untuk memperbarui buku disaat sekolah memiliki keterbatasan anggaran. 

Pertama, mendatangi kepala desa setempat, untuk mendapatkan pinjaman buku perpustakaan desa. Hasilnya, sekolah mendapatkan pinjaman 200 buku bacaan per semester.

Kedua melibatkan alumni untuk menyumbang satu buku bacaan sebelum mereka lulus. Ketiga, menganggarkan dana bos sekitar empat persen untuk membeli buku bacaan. Keempat, orang tua siswa dilibatkan untuk membelikan buku-buku kesukaan siswa.

Buku itu setelah dibaca anaknya, mereka dapat saling bertukar buku dengan temannya.  “Dari upaya ini, setiap semester kami mendapat sekitar 400-an buku bacaan baru,” katanya lagi. 

Banyaknya koleksi buku lalu disebar ke setiap kelas agar siswa lebih mudah membacanya. Sekolah juga membuat program kampanye membaca setiap hari. Program ini sudah dilakukan sejak 2014 sebelum kebijakan membaca 15 menit dijalankan Kemendikbud.

Tanoto Foundation memberikan bantuan pembangunan perpustakaan baru berukuran 36 meter persegi yang dilengkapi lemari, meubelair dan buku-buku bacaan. Bantuan ini semakin membuat program budaya baca sekolah berkembang. 

Sekolah membuat jadwal rutin, setiap kelas wajib mengunjungi perpustakaan seminggu dua kali. Baik untuk kegiatan pembelajaran atau membaca rutin. 

"Bentuknya dengan melatih siswa menulis, menceritakan kembali isi buku, menggambar tokoh buku dalam poster, atau membuat kegiatan bedah buku,” kata Kartika.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id