Program ini telah mengirimkan salah satu mahasiswa Teknik Geologi ITB 2018 Muhammad Azka Faiz Siregar untuk melanjutkan studi dengan beasiswa penuh di Jepang. Creating the Leader adalah program inovasi dari Prodi Teknik Geologi ITB yang berkomitmen untuk menghasilkan geolog dan pemimpin andal di masa depan.
Prodi memberikan "Golden Ticket" otomatis dengan beasiswa penuh kepada ketua himpunan Teknik Geologi ITB HMTG “GEA” ITB untuk melanjutkan pendidikan Geologi dan pengalaman pembentukan karakter yang berbeda di luar negeri.
Program Creating The Leader adalah salah satu dari banyaknya program untuk membentuk generasi penerus bangsa yang unggul. Harapannya, dengan bekal yang didapat oleh calon pemimpin bangsa di Indonesia dapat dielaborasikan dengan asupan baru di negara lain untuk bisa memajukan negeri.
Tahun 2022 merupakan tahun keberuntungan Azka. Belum genap sebulan berhasil menyelesaikan studi sarjana di Teknik Geologi ITB, Azka berkesempatan menimba ilmu di Graduate School of Science and Engineering, Ehime University, Japan.
Berbekal pengalaman kepemimpinan dan usaha terbaiknya mampu mengantarkan Azka ke negeri Sakura. Selama di ITB, Azka dikenal dengan mahasiswa yang aktif secara nonakademik.
Di Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), Azka pernah menjabat sebagai Direktorat Jenderal Bimbingan Khusus, Kementerian PKKP, Kemenkoan PSDM pada 2020-2021 dan 2021-2022. Azka diamanahi sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ITB HMTG “GEA” ITB.
Azka mengaku mendapat rekomendasi dari dua dosen Teknik Geologi ITB, yakni Mirzam Abdulrahman dan Idham Andri Kurniawan untuk menjadi mahasiswa bimbingan Masayuki Sakakibara di Ehime University. Setelah itu, Azka mulai mencari beasiswa dan berkesempatan menerima beasiswa penuh dari Naiba yang bergerak di bidang geoengineering.
Azka mengakui dirinya sempat terkendala masalah Bahasa. Sakakibara juga mewajibkan dirinya untuk bisa bahasa Jepang walaupun saat kuliah Azka berada di kelas Internasional.
Hal ini bukan menjadi penghambat bagi Azka untuk bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya. Azka yang cenderung mudah bergaul, mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar dengan kemampuan bahasa Inggrisnya.
Belum genap seminggu di Jepang, Azka mengatakan dirinya merasa nyaman. Kehangatan orang Jepang dan suasana yang dingin membuat Azka tidak merasakan homesick. Terlebih, Azka telah menemukan komunitas muslim yang membuat dirinya tetap ingat untuk selalu beribadah.
Namun, kegiatan kemahasiswaan di dalam kampus sangat terbatas bahkan tidak ada wadah seperti halnya universitas di Indonesia. Sehingga, Azka berencana membantu kegiatan Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang untuk tetap menghidupkan semangat berorganisasi.
"Di masa-masa muda, jangan pernah ragu ambil kesempatan yang ada. Awali segala sesuatu dengan niat yang baik. Dan selalu ingat tiga kata saat berinteraksi dengan orang lain. Terima kasih, minta maaf, dan minta tolong,” ucap Azka.
| Baca juga: Inovasi Smart Camera Surveillance System, Mahasiswa ITB Raih Juara 2 Schlumberger Agora Hackathon 2022 |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News