NEWSTICKER
Produser film Semesta Mandy Marahimin dan Sutradara Film Chairun Nissa. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Produser film Semesta Mandy Marahimin dan Sutradara Film Chairun Nissa. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Produser Ingin 'Semesta' Bisa Dinikmati di Sekolah-Sekolah

Pendidikan film indonesia
Muhammad Syahrul Ramadhan • 19 Februari 2020 19:41
Jakarta: Produser film Semesta, Mandy Marahimin berkeinginan filmnya dapat dinikmati langsung di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Harapan ini muncul, melihat animo penonton yang juga membawa anaknya menyaksikan film yang bercerita tentang tujuh 'penjaga' bumi melalui nilai agama, budaya, dan tradisi.
 
Menurut Mandy, saat ini film yang berdurasi 90 menit ini juga telah dibuat nonton bersama oleh beberapa sekolah di daerah. “Ke depan ingin distribusi langsung ke sekolah-sekolah,” kata Mandy usai nonton bersama yang digelar Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, di Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 18 Februari 2020.
 
Untuk itu, ia berharap Dirjen Kebudayaan Kemendikbud bisa membantu. Pasalnya, untuk melakukan distribusi film ke sekolah-sekolah juga membutuhkan biaya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Untuk melakukan itu, masih mencari dana lagi, semoga bisa gandengan sama kemendikbud dan Ditjen Kebudayaan,” jelasnya.
 
Ditjen Kebudayaan sendiri mengaku siap membantu memfasilitasi. Sebab film ini layak disaksikan oleh siswa-siswa untuk mengetahui keragaman Indonesia dan bagaimana kedekatan manusia dengan alam terus dijaga kelestariannya.
 
“Dengan adanya penayangan, siswa akan dibawa melihat tidak hanya kekayaan budaya alam tapi juga agar dekat dengan alam. Dekat dengan lingkungan hidup. Tidak hanya menggunakan, tapi manfaat dibarengi pelestarian,” jelas Kapokja Apresiasi dan Arsip Film Kemendikbud, Edi.
 
Film Semesta bercerita tentang tujuh orang dengan latar belakang yang beragam, tapi memiliki misi yang sama, yakni menjaga bumi, Para protagonis ini dipilih melalui proses riset dan ketujuh orang ini berada di daerah yang berbeda-beda. Mulai dari Aceh, Papua, sampai Jakarta.
 
Mereka semua mempunyai cara masing-masing dalam bersinergi dengan alam. Namun tujuannya sama, memenuhi kebutuhan hidup dengan tetap menjaga kelestariannya.
 
Salah satunya Agustinus Pius Inam, Kepala Dusun Sungai Utik, Kalimantan Barat, yang memastikan pentingnya penduduk desa memahami dan mengikuti langkah tata cara adat dalam melindungi dan melestarikan hutan.
 
Pasalnya, dengan cepatnya deforestasi, hanya tata cara masyarakat adat dalam mengelola hutan yang menjadi harapan terbaik terhadap perlindungan hutan. Bagi masyarakat hutan adat di Dusun Sungai Utik, tanah adalah ibu, sementara air adalah darah.
 
Makanya perlu dijaga dari segala ancaman kerusakan. Ada juga yang menjaga teguh nilai agama sebagai laku hidup.
 
Sosok tersebut adalah Iskandar Waworuntu yang bertahun-tahun lalu memutuskan hijrah dari kehidupannya dahulu dan hidup dari sebidang tanah kering. Sebuah tempat yang ia beri nama Bumi Langit.
 
Melalui komitmen untuk menjalani praktik thayyib(kebaikan), yang dimulai dari diri sendiri dan dari yang dikonsumsi sehari-hari.
 
Pria yang akrab disapa Pak Is ini dengan dukungan keluarganya menggunakan ilmu permakultur untuk berhubungan kembali dengan alam. Mereka membuka pintu bagi siapa saja untuk belajar dan berbagi di Bumi Langit dalam menyebarkan pemahaman untuk secara sadar kembali pada kebaikan.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif