Dirjen SDID Kemenristkedikti, Ali Ghufron Mukti. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Dirjen SDID Kemenristkedikti, Ali Ghufron Mukti. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Dirjen SDID: Profesor Harus Tetap Produktif

Pendidikan Publikasi Ilmiah
Kautsar Widya Prabowo • 16 Oktober 2019 14:05
Jakarta: Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ali Ghufron Mukti mengimbau agar para guru besar menjaga produktivitasnya dalam menulis karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal bereputasi nasional maupun internasional. Menyusul akan mulai dikaitkannya produktivitas tersebut dengan pemberian tunjangan kehormatan profesor.
 
Terkaitkebijakan pemerintah yang akan menghentikan sementara tunjangan kehormatan terhadap guru besar yang tidak memenuhi syarat produktivitas sesuai UU Nomor 20 tahun 2017 dinilai Ghufron sebagai sesuatu yang wajar. Tunjangan baru dicairkan di tahun berikutnya, jika yang bersangkutan telah memenuhi syarat publikasi yang ditetapkan.
 
"Jadi seorang profesor harus tetap produktif, kalau tidak nanti bisa dikaitkan dengan tunjangan. Itu (Pemberian tunjangan) efektif dan sudah jelas hasilnya," ujar Ghufron kepada Medcom.id di Jakarta, Rabu, 16 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam Permenristekdikti 20 tahun 2017 disebutkan tunjangan kehormatan profesor akan diberikan jika memenuhi syarat yakni memiliki paling sedikit satu publikasi ilmiah di jurnal bereputasi internasional atau tiga publikasi ilmiah di jurnal nasional dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Jika tak memenuhi persyaratan, maka tunjangan tersebut akan dihentikan sementara.
 
Mantan Wakil Menteri Kesehatan era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ini menyebut, berbagai upaya untuk mendorong produktivitas publikasi internasional pada guru besar yang dilakukan pemerintah membuahkan hasil menggembirakan. Salah satu kebijakannya adalah memberikan tunjangan kehormatan kepada guru besar yang produktif.
 
Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM ini menjelaskan, dalam kurun waktu empat tahun belakangan ini terjadi peningkatan publikasi yang signifikan. Indonesia disebut menjadi penyumbang publikasi tertinggi di Asean.
 
"Awalnya pada 2015 itu ada 5.499, sekarang sudah 33.400 lebih, itu naiknya tajam sekali. Ini meningkat karena profesornya mulai produktif," ujar Ghufron.
 
?Selain itu, produktivitas guru besar didorong peran universitas yang ikut memberikan insentif kepada yang dosen dan guru besarnya.
 
Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan penerapan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor sedang dievaluasi. Jumlah publikasi riset akan memengaruhi tunjangan kehormatan guru besar sepenuhnya baru akan diterapkan 2020.
 
"Evaluasi ini di 2019 nanti siapa yang tidak mencapai publikasi akan kita pending (ditunda) tunjangannya,” kata Nasir dalam evaluasi kinerja triwulan III tahun 2019 di Gedung Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin 14 Oktober 2019.
 
Revisi Permenristekdikti terkait tunjangan kehormatan profesor dikaitkan pertama kali diterapkan akhir 2019. Jumlah dosen Indonesia saat ini tercatat 283.653 orang, 5.463 di antaranya profesor, 58.986 lektor, dan 32.419 merupakan lektor kepala.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif