Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Intan Yunelia.
Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Intan Yunelia.

Produksi Massal Pesawat N219 Diundur Akhir 2019

Pendidikan pesawat n219
Intan Yunelia • 31 Oktober 2018 12:10
Jakarta: Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Lembaga Penerbangan dan  Antariksa Nasional (LAPAN) memastikan proses produksi massal pesawat N219 diundur. Pesawat yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia itu masih menunggu proses sertifikasi laik produksi, dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengopersiaon Pesawat Udara rampung.

"Ini sebenarnya kami dalam tahap uji coba, diperlukan pada saat terbang, apakah ada masalah atau tidak. Kalau ada, masalah itu kita cek lagi, itu yang akan kita lakukan," kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir di kantor Kemenristekdikti, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Oktober 2018. 

Proses sertifikasi laik produksi itu sebelumnya ditargetkan selesai di 2018.  Sehingga pesawat karya anak bangsa itu bisa lanjut ke proses berikutnya, yakni produksi massal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Harapan saya sudah selesai, ternyata mundur sertifikasi sampai pertengahan 2019. Ini kan mau uji terbang besok,  saya akan cek lagi karena nanti menunggu lampu hijau terbang dulu," jelasnya.  Baca: Industri Dirgantara Vital di Negara Kepulauan

Kemenristekdikti bersama LAPAN masih terus mengkaji kesiapan komponen-komponen pesawat. "Rodanya, landing-nya, sayapnya, elektrisitasnya," sebut Nasir.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin di kesempatan yang sama menyampaikan, saat ini prototipe pesawat pertama N219 masih melanjutkan tahapan uji terbang. Ditargetkan November 2018, prototipe pesawat kedua bisa diuji coba. 

"Nanti mulai November ditargetkan pesawat kedua bisa first flight, sehingga uji terbang bisa menggunakan dua pesawat," jelas Thomas. 

Menurut Thomas, sangat wajar jika proses produksi massal mundur dari target awal 2018. Ada hasil evaluasi dan kekurangan yang harus disempurnakan, sampai mendapatkan sertifikat laik produksi. 

"Karena ini hal yang wajar dalam proses pengembangan. Saat uji terbang biasanya selalu ada masukan dan evaluasi," jelasnya.

Bahkan, untuk memperoleh sertifikasi laik produksi di luar negeri, kata Thomas, bisa menghabiskan waktu lebih lama dari Indonesia, yakni 3-5 tahun.  Sementara di Indonesia ditargetkan satu tahun, yang kemudian mundur menjadi 1,5 tahun untuk merampungkan proses sertifikasi.

"Dengan begitu, jadwal produksi N219 diundur jadi akhir 2019, karena sertifikat laik produksi belum dikantongi," pungkasnya.



(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi