Melalui Bug Bounty 2026, Pusdatin mendorong insan pendidikan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari solusi atas tantangan keamanan informasi. Kompetisi ini terbuka bagi empat kategori peserta, yakni siswa SMA/SMK/MA (minimal usia 17 tahun), mahasiswa, guru, dan dosen.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Wibowo Mukti, menjelaskan program ini dirancang sebagai ruang aman (sandbox) bagi peserta untuk mengeksplorasi teknik pengujian keamanan tanpa memberikan dampak terhadap layanan Kemendikdasmen.
“Program Bug Bounty dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan passion di bidang keamanan siber menjadi prestasi yang membanggakan,” ujar Wibowo dalam keterangan tertulis dikutip Rabu, 8 April 2026.
Pendaftaran peserta dibuka pada 6–30 April 2026 melalui platform Aman Bersama di laman https://amanbersama.kemendikdasmen.go.id, dilanjutkan dengan tahap pengujian pada 1–22 Mei 2026. Penilaian dilakukan dalam dua tahap.
Tahap pertama, aspek teknis memiliki bobot 70 persen dengan mengacu pada standar CVSS v3.1, sementara aspek pelaporan berbobot 30 persen. Tahap kedua, lima finalis dari masing-masing kategori akan mengikuti wawancara dengan komposisi penilaian meliputi teknik pengujian (60 persen), komunikasi (20 persen), dan orisinalitas (20 persen). Rangkaian kegiatan akan ditutup melalui Anugerah Bug Bounty 2026 pada 19 Juni 2026.
Wibowo mengajak seluruh insan pendidikan yang memiliki minat di bidang keamanan siber untuk berpartisipasi dalam ajang Bug Bounty 2026. Ia menyampaikan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
Dia menyoroti meningkatnya serangan ransomware dan phishing berbasis kecerdasan artifisial (KA) sepanjang 2025. Pemenang nantinya memperoleh uang pembinaan, sertifikat yang tercatat di Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), serta kesempatan bergabung dalam komunitas Manggala Edu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News