Pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji . Foto: Zoom
Pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji . Foto: Zoom

Sekolah Diarahkan untuk Digitalisasi, Tapi Kerap Putar Balik ke Konvensional

Ilham Pratama Putra • 16 Juli 2021 18:40
Jakarta: Pengamat sekaligus praktisi dunia pendidikan dari enter for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji menyebut dirinya telah banyak memberikan pelatihan agar sekolah bisa terdigitalisasi. Namun sayangnya, upaya tersebut kerap kali gagal.
 
"Sudah hampir 19 tahun Saya berjuang bagaimana pembelajaran digital itu bisa berjalan di sekolah-sekolah Indonesia. Tapi sayangnya tidak seperti yang saya harapkan. Jadi banyak yang habis di-training tapi balik lagi ke model yang tradisional, model yang biasa, model yang lama," kata Indra dalam webinar Ngopi Mantap LP Ma'arif NU PBNU, Jumat 16 Juli 2021.
 
Banyak sekolah yang masih menganggap teknologi digital masih terlalu dini untuk diterapkan. Bahkan sebagian di antaranya menganggap digitalisasi sekolah adalah hal negatif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, belakangan barulah sekolah mulai sadar bahwa digitalisasi sekolah adalah satu kebutuhan. Apalagi mengingat pembelajaran daring sebagai satu keniscayaan di tengah pandemi covid-19.
 
"Apalagi dengan PPKM darurat ini ya, kalau tidak terjadi pembelajaran digital tidak akan terjadi pembelajaran," sebutnya.
 
Selain pelatihan, kata Indra, sebuah sistem harus dibangun guna membangun sekolah digital. Sebuah sistem yang memiliki bingkai dan alur kerja.
 
"Dan kalau kita bicara pembelajaran basisnya digital itu kita apa hal-hal yang harus kita siapkan sehingga prosesnya akan menjadi lebih efektif dan lancar," terangnya.
 
Baca juga:  Pembelajaran Daring Hanya Ciptakan Interaksi Semu
 
Indra menyebut, ada beberapa cara kerja yang mesti disiapkan. Di antaranya infrastruktur yang terkait dengan gawai hingga fasilitas internet.
 
"Kedua infrastruktur ini bagaimana informasinya bisa terstruktur (dalam memberikan pembelajaran). Yang terakhir adalah info culture, di mana pembelajaran digital bisa anytime, anywhere, anydevice karena punya management system, materi yang disampaikan ini bisa tersimpan dan bisa diakses kapan saja," tutupnya.

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif