Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

SPMB Jabar 2026, KDM: Jangan Daftar di Sekolah yang Pesertanya Numpuk!

Ilham Pratama Putra • 16 Juni 2026 10:10
Ringkasnya gini..
  • Dedi Mulyadi meminta calon siswa tidak memaksakan diri mendaftar di sekolah yang sudah penuh peminat.
  • Pemprov Jabar menyiapkan sekolah penyangga dan SMA Terbuka sebagai alternatif pendidikan.
  • Sekitar 700 sekolah swasta akan digratiskan melalui program Beasiswa Pancawaluya.
Jakarta: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengimbau para orang tua dan calon murid baru tidak memaksakan diri mendaftar ke sekolah yang pesertanya sudah menumpuk pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat 2026. Menurut Dedi, masih banyak sekolah negeri yang memiliki kuota dan belum dipadati pendaftar. 
 
"Masih banyak sekolah-sekolah negeri yang belum cukup peminatnya. Manfaatkan ruang ini dengan baik, jangan keukeuh di sekolah yang sudah numpuk pesertanya," kata Dedi melalui akun Instagram @dedimulyadi71 dikutip Selasa, 16 Juni 2026. 
 
Karena itu, masyarakat diminta memanfaatkan pilihan sekolah yang tersedia agar peluang diterima semakin besar. Terutama, sekolah yang peminatnya masih minim.

Dedi menjelaskan proses pendaftaran SPMB Jabar 2026 berlangsung pada 15 Juni hingga 14 Juli 2026. Ia memastikan para calon murid yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan SMK pada dasarnya sudah terdata dalam sistem.
 
"Karena siswa-siswa kita yang masuk SMA, SMK sudah terdaftar di PCMB," tutur dia.
 
 
Baca juga: Pendaftaran SPMB Jabar 2026 Tahap 1 Dibuka Hari Ini: Cek Jalur, Kuota, dan Cara Daftarnya!

 
KDM, sapaan karib Dedi Mulyadi, meminta orang tua tidak perlu panik atau terburu-buru melakukan pendaftaran. Peserta hanya perlu mengikuti petunjuk yang tersedia pada aplikasi SPMB untuk menentukan pilihan sekolah.
 
"Di SPMB ini nanti tinggal klik saja sesuai dengan petunjuk teknis yang ada di aplikasi SPMB," ujar Dedi.
 
Dia juga meminta masyarakat memanfaatkan berbagai alternatif yang telah disiapkan pemerintah daerah. Bagi calon murid yang tinggal di wilayah perbatasan, Pemprov Jabar menyediakan sekolah penyangga yang dapat menjadi pilihan. 
 
Sementara itu, bagi siswa yang mengalami kendala hadir setiap hari ke sekolah, tersedia layanan SMA Terbuka. Menurut Dedi, SMA Terbuka tetap merupakan sekolah negeri sehingga lulusan akan memperoleh ijazah negeri yang memiliki legalitas yang sama dengan sekolah reguler.
Baca juga: 
 

"Bagi yang wilayah perbatasan, nanti ada namanya sekolah penyangga, manfaatkan. Yang penting anak-anak kita sekolah. Bagi mereka yang anak-anaknya tidak bisa tiap hari ke sekolah, manfaatkan namanya sekolah terbuka, SMA terbuka," tutur dia.
 
Dedi juga memastikan Pemprov Jabar telah menyiapkan solusi bagi calon murid yang belum berhasil diterima di sekolah negeri. Pemprov Jabar menggandeng sekitar 700 sekolah swasta melalui skema kerja sama yang akan ditandatangani secara resmi.
 
Melalui kerja sama tersebut, siswa yang bersekolah di sekolah swasta mitra Pemprov Jabar tidak akan dibebani biaya pendidikan. Sebab, biaya pendidikan sudah ditanggung melalui program Beasiswa Pancawaluya.
 
"Ada 700 sekolah swasta yang menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi. Kita memasuki era di mana anak-anak sekolah negeri dan sekolah swasta yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi tidak dipungut biaya oleh sekolah," tutur dia.
 
Dedi menegaskan langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah Jawa Barat. Pihaknya ingin memastikan seluruh anak di Jawa Barat memperoleh akses pendidikan yang layak tanpa terkendala biaya.
 
"Semoga sehat, berkah, penuh semangat untuk menyekolahkan anak-anak kita," ujar dia.
 
Baca juga: Buruan Login! Cek Hasil PCMB SPMB Jabar 2026 dan Jadwal Daftar Tahap 1

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA