Kemuliaan yang melekat pada bulan ini tidak terlepas dari banyaknya amalan sunah yang dapat dikerjakan oleh umat Islam. Melalui berbagai ibadah tersebut, setiap muslim berkesempatan mendapat pahala dan meningkatkan ketakwaan mereka.
Salah satu ibadah yang paling utama dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW di bulan ini adalah melaksanakan ibadah puasa. Hal itu tercantum pada hadis sahih riwayat Imam Muslim yang menyebutkan bahwa puasa di bulan Muharam adalah yang paling utama setelah Ramadan.
Secara khusus, keutamaan berpuasa ini terletak pada dua hari penting, yaitu hari Tasuaa pada 9 Muharam dan hari Asyura pada 10 Muharam. Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas RA, kesunahan puasa Tasua ini dilakukan untuk membedakan tradisi umat Islam dengan kaum Yahudi serta Nasrani.
Selain berpuasa, amalan utama lain yang memiliki yang sangat besar di bulan ini adalah menyantuni serta bersedekah kepada anak yatim. Di beberapa daerah di Indonesia, kegiatan bersedekah kepada anak-anak yatim pada bulan Muharam bahkan menjadi sebuah tradisi tersendiri.
Landasan Dalil Berpuasa
Mengutip laman Majelis Ulama Indonesia, terkait keutamaan puasa di bulan Muharam, Rasulullah SAW menegaskan pentingnya ibadah tersebut melalui sabdanya:أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan ialah puasa di bulan Allah, Muharam.” (HR Muslim).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menjawab pertanyaan sahabat mengenai puasa yang paling utama setelah Ramadan:
جاء رجل إلى النبي ضلى الله عليه وسلم فقال: أي الصيام أفضل بعد شهر رمضان؟ قال: شهر الله الذي تدعونه المحرم
Artinya: “Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, ‘Setelah Ramadan, puasa di bulan apa yang lebih afdal?’ Nabi menjawab, ‘Puasa di bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharam.” (HR Ibnu Majah).
Sementara itu, mengenai anjuran berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam disebutkan dalam hadis berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهوُ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Artinya: “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan menyuruh para Sahabatnya juga berpuasa, maka mereka berkata, ”Wahai Rasulullah SAW, hari Asyura itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalau demikian, Insya Allah tahun depan kita berpuasa pada hari yang kesembilan.” (HR Muslim dan Abu Dawud).
Adapun dasar keutamaan menyayangi dan mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura bersandar pada hadits berikut:
مَنْ مَسَحَ رَأْسَ الْيَتِيمِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنْ رَأْسِهِ حَسَنَةً، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ يَتِيمٌ أَوْ يَتِيمَةٌ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا»، وَنَصَبَ إِصْبَعَيْنِ وَقَرَنَهُمَا
Artinya: “’Seseorang yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim di hari Asyura’ (10 Muharam), maka Allah akan mengangkat derajatnya, setiap helai rambut yang diusap satu derajat. Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga.’ Nabi berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, lalu Nabi memisahkannya sedikit.” (HR Bukhari).
12 Amalan di Bulan Muharam
Syekh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanzun Naja was Surur fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur merangkum ragam ibadah ini ke dalam bentuk syair (nadham) agar mudah diingat oleh umat Islam:فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ
Artinya: “Ada sepuluh amalan di dalam bulan Asyura, ditambah lagi dua amalan lebih sempurna (12 amalan). Berpuasalah, salatlah, sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan memakai celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, dan membaca surat al-Ikhlas 1000 kali.”
Berikut rincian dari 12 amalan tersebut berdasarkan isi kandungan syair di atas:
- Berpuasa, seperti puasa Tasua dan Asyura
- Melakukan salat
- Menyambung silaturahim
- Ziarah orang alim (ulama)
- Menjenguk orang sakit
- Memakai celak mata
- Mengusap kepala anak yatim
- Bersedekah
- Mandi
- Menambah nafkah keluarga
- Memotong kuku
- Membaca Surat Al-Ikhlas 1.000 kali
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda