Ilustrasi anak. Medcom.id
Ilustrasi anak. Medcom.id

Pendidikan Keluarga Mesti Jadi Perhatian Cegah Kenakalan Anak dan Remaja

Pendidikan pendidikan keluarga pendidikan anak hari pendidikan nasional Hardiknas 2022
Renatha Swasty • 03 Mei 2022 12:51
Jakarta: Guru Besar PG-PAUD Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Rachma Hasibuan menyebut kasus-kasus kenakalan yang melibatkan remaja mesti menjadi perhatian khususnya di Hari Pendidikan Nasional. Dia menyebut sudah banyak hal untuk mengatasi kasus-kasus yang melibatkan remaja bahkan anak-anak, namun upaya itu masih dominan ‘mengatasi’ ketimbang ‘mengantisipasi’.
 
Rachma menyebut kasus-kasus yang melibatkan remaja dipengaruhi banyak faktor, salah satunya kuatnya pengaruh lingkungan atau teman pergaulan. Dia mengatakan dalam banyak kasus, pengaruh lingkungan mencengkeram remaja seiring kurangnya peran pendidikan keluarga atau peran orang tua.
 
"Atau bisa jadi kontrol dan pengawasan orang tua yang kendur membuat remaja cepat terpedaya pergaulan," kata Rachma dikutip dari laman unesa.ac.id, Selasa, 3 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rachma menyebut tugas mengatasi persoalan remaja tak cuma dititikberatkan pada lembaga pendidikan. Orang tua atau pendidikan keluarga memiliki peran penting. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama bagi anak maupun remaja.
 
“Sekolah kan sebagai perpanjangan tangan orang tua ya sebagai penguatan kognitif, afektif dan psikomotorik. Tetapi, tanggung jawab utamanya tetap kembali ke orang tua. Orang tua harus jadi guru bagi anak, bisa menjadi teman curhat dan teman ngobrol yang asyik bagi anak di rumah,” ujar dia.
 
Dia menjelaskan dalam konteks berbangsa dan bernegara, peran orang tua tidak hanya agar anak-anaknya tidak terjerumus ke tindakan yang melanggar norma dan hukum. Namun, lebih jauh sebagai upaya penanaman nilai-nilai Pancasila pada anak sejak dini.
 
Rachma menyebut profil Pelajar Pancasila selain ditanamkan di sekolah, juga perlu menjadi muatan dalam pendidikan keluarga. “Ketika peran orang tua di rumah kuat, peran sekolah juga bagus, kontrol keduanya jalan, ditambah kontrol masyarakat, ini akan menjadi rantai yang mengawasi dan mengontrol pergaulan anak-anak baik di rumah, di sekolah maupun ketika di masyarakat,” papar dia.
 
Rachma menuturkan orientasi pendidikan keluarga bahkan sekolah tidak melulu soal capaian materi tertentu, tetapi juga sedapat mungkin bergeser ke arah penanaman nilai karakter yang Pancasila. Dia mengatakan bila arahnya untuk memperbaiki karakter anak, tentu belajar di rumah maupun di sekolah tidak hanya bermuatan hafalan, tetapi juga berbasis keteladanan dan pembiasaan sikap-sikap dari hal yang paling sederhana.
 
Seperti mengajarkan anak membuang sampah di tempat yang disediakan, cium tangan orang tua dan guru ketika pergi dan pulang sekolah. “Karakter Pancasila ini larinya juga ke upaya kita menanamkan rasa cinta bahasa dan budaya Indonesia. Kita harus mengajarkan anak-anak untuk bangga dengan bahasa Indonesia. Bangga dengan budaya Indonesia,” paparnya.
 
Sehingga, anak-anak itu menjadi duta budaya dan duta Pancasila di mana pun mereka bekerja, berkarier, atau menjabat. "Kalau Pancasila sudah kita tanamkan sejak dini, berkarakter luhur seperti tujuan pendidikan, anak-anak kita tidak akan lari ke hal-hal yang terlarang,” tutur dia.
 
Baca: Hardiknas Perlu Hidupkan Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Soal Budaya Pancasila
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif