Pondok Pesantren Sunan Drajat. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Pondok Pesantren Sunan Drajat. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

BI Membuka Jalan, Ponpes Sunan Drajat Teguhkan Kemandirian Ekonomi

Ilham Pratama Putra • 01 Oktober 2026 09:23
Ringkasnya gini..
  • Pondok Pesantren Sunan Drajat memiliki 24 unit bisnis dan telah mendampingi lebih dari 40 pesantren di berbagai daerah untuk mengembangkan usaha secara mandiri.
  • Dukungan Bank Indonesia melalui distribution center, Tobaku Halal, koperasi, hingga penguatan usaha membantu membangun ekosistem ekonomi pesantren yang saling terhubung.
  • Model pendampingan Sunan Drajat menekankan transfer pengetahuan dan penguatan SDM agar pesantren mitra mampu mengelola bisnis secara mandiri.
Jakarta: Kemandirian ekonomi pesantren tidak cukup dibangun hanya dengan mendirikan satu unit usaha. Ketika sebuah pesantren mampu membangun sistem bisnis, tantangan berikutnya adalah bagaimana model tersebut bisa diperluas dan memberi manfaat bagi pesantren lain.
 
Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Jawa Timur, menjadi salah satu contoh bagaimana pengembangan ekonomi pesantren berkembang dari penguatan internal menjadi model kemitraan. Dalam proses tersebut, Bank Indonesia (BI) hadir melalui berbagai program pengembangan usaha, mulai dari distribution center, usaha bahan baku halal, penguatan koperasi, hingga pengembangan ekosistem bisnis pesantren.
 
Direktur Utama Perekonomian Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Gus Anas Alhifni, mengatakan dukungan tersebut tidak berhenti pada pembangunan kapasitas bisnis Sunan Drajat. Setelah memiliki pengalaman dan sistem yang lebih kuat, Sunan Drajat kemudian ikut mendampingi pesantren lain untuk pengembangan usaha.
 
“Sekarang kita sudah mendampingi lebih dari 40 pesantren. Ada yang di Jawa, ada juga di Sulawesi, Kalimantan, dan daerah lainnya,” ujar Gus Anas dalam wawancara media di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Jumat 25 September 2026.
Gus Anas meyakini pengelolaan ekonomi sebagai salah satu fondasi kemandirian pesantren. Pesantren yang didirikan kembali oleh Prof Dr KH Abdul Ghofur pada 1977 itu kini memiliki berbagai sektor usaha yang  kini mampu mendukung keberlangsungan pendidikan bagi 16 ribu santri, pemberdayaan masyarakat hingga kesejahteraan 800 guru.
 

Sentuhan BI dalam Jejak Kemandirian Ekonomi
 

Perjalanan kemandirian ekonomi Pondok Pesantren Sunan Drajat berkembang melalui berbagai unit usaha. Mulai dari perdagangan, industri pangan, garam, hingga teknologi digital.
 
Tercatat saat ini ada 24 unit bisnis yang berada di bawah Perekonomian Ponpes Sunan Drajat. Jumlah ini belum termasuk unit bisnis lainnya yang sedang dikembangkan seperti peternakan sapi, hingga peternakan ayam petelur.
 
Salah satu titik penting dalam perjalanan pengembangan ekonomi Ponpes Sunan Drajat adalah dukungan Bank Indonesia. Pada 2019, Sunan Drajat mendapatkan dukungan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) untuk pembangunan distribution center (DC).
 
Fasilitas distribution center tersebut tidak berhenti sebagai gudang penyimpanan. Dalam perkembangannya, distribution center menjadi bagian dari pengembangan Toserba Sunan Drajat yang kini telah berkembang sebanyak 200 cabang.
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 10_48_25 AM
Direktur Utama Perekonomian Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Anas Alhifni. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
 

Dari Penerima Dukungan Menjadi Penggerak

 
Bagi Anas, pengalaman membangun bisnis tersebut menjadi modal penting ketika Sunan Drajat mulai diminta membantu pesantren lain. Model yang diterapkan tidak sekadar memberikan pelatihan satu atau dua kali.
 
Ia menjelaskan jika Tim Sunan Drajat turun langsung ke pesantren mitra, membantu menyiapkan bisnis, melatih sumber daya manusia, membangun sistem operasional. Kemudian, secara bertahap pihak Sunan Drajat mengurangi keterlibatan mereka ketika pengelola lokal dari pesantren mitra sudah mampu menjalankan usaha sendiri.
 
“Jangan sampai kita datang, kemudian pesantrennya bergantung kepada kita. Kita harus membuat mereka bisa mandiri,” kata Anas.

Adapun pendampingan Sunan Drajat ke pesantren mitra biasanya dilakukan selama sekitar enam bulan. Pada fase awal, tim Sunan Drajat dapat mengirim sejumlah personel untuk membantu menjalankan bisnis sekaligus mentransfer pengetahuan kepada tenaga lokal.
 
Setelah sistem berjalan, jumlah personel dari Sunan Drajat dikurangi. Pengelolaan kemudian sepenuhnya diarahkan kepada pesantren mitra.
 
Salah satu contoh pesantren yang didampini Sunan Drajat adalah Pondok Pesantren Abdussalam di Kalimantan Barat. Ketika pendampingan dimulai, Sunan Drajat mengirim sejumlah tenaga untuk membantu pengembangan bisnis.  
Seiring waktu, kebutuhan terhadap tim pendamping berkurang karena pesantren mitra mulai mampu menjalankan sistem secara mandiri. Kini, menurut Anas, Ponpes Abdussalam telah memiliki sekitar delapan unit Toserba dan lebih dari 100 karyawan.
 
“Awalnya orang kita banyak di sana. Sekarang tinggal dua orang. Karena mereka sudah bisa menjalankan sendiri,” ujar Anas.
 
Pola tersebut menjadi penting karena tujuan kemitraan bukan memperluas jaringan usaha yang semuanya dikendalikan Sunan Drajat. Sebaliknya, model yang dibangun diarahkan agar pesantren mitra memiliki kemampuan mengelola usaha sendiri.
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 10_48_26 AM(2)
Toserba Ponpes Sunan Drajat. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
 

BI Dorong Model yang Bisa Direplikasi

 
Pengalaman Sunan Drajat tersebut tidak terlepas dari ekosistem pengembangan ekonomi pesantren yang juga dibangun Bank Indonesia. Salah satunya melalui Koperasi Syarekat Bisnis Pesantren (KSBP).
 
Anas mengatakan ketika diminta membantu mengembangkan KSBP pada 2019, koperasi tersebut memiliki 17 pesantren anggota di Jawa Timur. Tetapi aktivitasnya sempat tidak berjalan selama sekitar dua tahun.
 
Sunan Drajat kemudian menggunakan kebutuhan perdagangan internal sebagai salah satu cara menghidupkan kembali aktivitas koperasi. Pembelian kebutuhan pesantren seperti alat tulis diarahkan melalui KSBP sehingga koperasi mulai memiliki transaksi dan omzet.
 
Dari proses tersebut, BI kemudian mendukung pengembangan distribution center di tiga pesantren. Yakni Sunan Drajat, Nurul Jadid Paiton, dan Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
 
Dukungan itu berkembang ke program lain. Sunan Drajat mencatat BI memberikan dukungan mesin percetakan pada 2017 senilai Rp150 juta, distribution center pada 2019 senilai Rp950 juta, mesin pengering garam pada 2022 senilai Rp125 juta, serta tiga Tobaku Halal pada 2023 dengan total dukungan Rp2,1 miliar.
 
Rangkaian dukungan tersebut menunjukkan pendekatan yang tidak berhenti pada satu jenis usaha. Penguatan dilakukan pada berbagai titik yang saling berhubungan, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi hingga akses pasar.
 
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 10_48_26 AM(1)
Produk Fashion Toserba Pondok Pesantren Sunan Drajat. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
 
Pengembangan Toko Bahan Baku (Tobaku) Halal menjadi contoh lain bagaimana model tersebut diperluas. Menurut Anas, terdapat tiga titik Tobaku yang dikembangkan di sekitar wilayah Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro.
 
Program tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk mempertemukan kebutuhan bahan baku dengan jaringan pesantren. Sunan Drajat mencatat tiga Tobaku Halal tersebut mendapatkan dukungan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) pada 2023.
 
Namun, penerima manfaatnya tidak semata-mata Sunan Drajat. Dalam model yang dijelaskan Anas, pesantren mitra menyediakan aset atau lokasi, sedangkan Sunan Drajat dapat membantu dari sisi modal kerja, rak, sistem, operasional, hingga sumber daya manusia sesuai kebutuhan.
 
Dengan pola tersebut, setiap mitra memiliki peran dalam membangun bisnis. Sunan Drajat tidak harus memiliki seluruh aset untuk memperluas jaringan.

 
Dari Ekonomi ke Ekosistem Digital

 
Pengalaman Sunan Drajat membangun jaringan bisnis, juga mendorong Ponpes itu melakukan pengembangan ekosistem digital pesantren. Sunan Drajat kini juga memiliki sistem digital sendiri.
 
Misalnya, ada platform M-Store yang digunakan untuk memantau aktivitas bisnis secara real time. Sistem tersebut memungkinkan pengelola melihat omzet cabang, stok, barang masuk, pembelian, dan sejumlah indikator operasional lainnya.
 
Ekosistem tersebut kemudian diperluas melalui platform Pesantara.id atau Koperasi Digital Pesantren Nusantara. Menurut Anas, sekitar 40 pesantren telah menjadi anggota Pesantara.
 
Konsep Pesantara bukan sekadar marketplace. Pesantren yang menjadi anggota koperasi sekaligus menjadi bagian dari kepemilikan, sedangkan produk yang dipasarkan berasal dari santri atau pesantren anggota.
 
Anas menyebut Pesantara telah membukukan omzet hampir Rp8 miliar. Ke depan, platform tersebut juga direncanakan mengembangkan layanan PPOB untuk berbagai kebutuhan.
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 10_48_25 AM(2)
Pengharhaan Bank Indonesia kepada Ponpes Sunan Drajat. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
 

Efek Berantai Ekonomi Pesantren

 
Model tersebut memperlihatkan bagaimana pengembangan ekonomi dapat bergerak dari satu pesantren menuju jaringan yang lebih luas. Sunan Drajat tidak hanya membangun usaha untuk memenuhi kebutuhan internal.
 
Anas mengatakan syarat utama bagi pesantren yang ingin didampingi ialah keseriusan membangun bisnis serta kesiapan menyediakan tenaga profesional. Pesantren tidak cukup hanya menyediakan santri aktif untuk menjalankan unit usaha.
 
“Kita tidak bisa menggunakan santri aktif untuk menjadi tenaga bisnis. Harus ada orang khusus yang memang fokus mengelola bisnis,” ujarnya.
 
Pendekatan itu sekaligus menjaga agar kegiatan ekonomi tidak menggeser fungsi utama pesantren sebagai lembaga pendidikan. Pengalaman Sunan Drajat menunjukkan bahwa dukungan BI pada satu titik dapat berkembang menjadi jejaring yang lebih besar ketika pengetahuan dan model bisnis ikut ditularkan.
 
Dari sebuah pesantren yang membangun kemandirian ekonomi, lahir model pendampingan bagi puluhan pesantren lain. Di titik inilah dukungan terhadap ekonomi pesantren tidak lagi berhenti pada pertumbuhan satu lembaga, tetapi berpotensi menciptakan efek berantai bagi ekosistem pesantren hingga masyarakat di sekitarnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan