Ketua Ombudsman Amzulian Rifai. Foto: MI/Rommy Pujianto
Ketua Ombudsman Amzulian Rifai. Foto: MI/Rommy Pujianto

Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik Memprihatinkan

Pendidikan Bahasa Indonesia Penggunaan Bahasa
Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Oktober 2019 22:56
Jakarta: Ketua Ombudsman Republik Indonesia Amzulian Rifai menyebut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan belum sesuai harapan. Regulasi ini dinilai belum bisa membuat penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dilakukan dengan baik.
 
"Hasil temuan Ombudsman memang penggunaan bahasa Indonesia di ranah publik belum sesuai harapan kita," kata Amzulian dalam di Gedung Pusat Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Rawamangun, Jakarta Timur, Senin, 21 Oktober 2019.
 
Amzurian mengatakan Ombudsman masih banyak menemukan pengguna bahasa asing di ruang publik. Ada yang menggunakan bahasa asing secara utuh atau penggunaannya digabung dengan bahasa Indonesia. Menurut dia, hal ini terjadi lantaran pemerintah tidak konsisten dan konsekuen menjalankan undang-undang kebahasaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harus kita perhatikan masyarakat sangat dipengaruhi kelakuan pemerintah, apakah regulasi sudah benar-benar diterapkan,” ujarnya.
 
Amzurian meminta pemerintah lebih berupata keras meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Termasuk, pemerintah daerah. "Kalau kita ingin Undang-undang ini tidak sekadar hukum yang tertulis saja,” ujarnya.
 
Sementara, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Ghufran Ali Ibrahim menganggap sepuluh tahun UU Nomor 24 Tahun 2009 berlaku tak lantas membuat bahasa Indonesia menjadi primadona di ruang publik. Ia menilai penggunaan bahasa asing lebih disukai ketimbang bahasa Indonesia.
 
"Kalau di Jepang, di Perancis, Rusia, kebanggaan mereka menggunakan bahasa mereka, luar biasa," kata Ghufran.
 
Menurut Ghufran, bahasa di media sosial juga acap tak mendidik. Ia juga menyoroti penggunaan bahasa dalam acara diskusi ataupun debat di televisi yang tidak mencerminkan sebuah dialog kebahasaan yang apik.
 
"Sebenarnya monolog berbahasa dengan dirinya sendiri, klaim-klaim kebenaran, dan bahasa mereka tidak tahu, bernalar atau marah dengan bahasa atau sedang marah dengan bahasanya" ungkap Ghufran.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif