Ilustrasi. Foto:  Medcom.id/Apit Haeruman
Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Apit Haeruman

Oknum Guru Pelaku Kekerasan Seksual Harus Diganjar Berat

Pendidikan pelecehan seksual Kekerasan di Sekolah
Intan Yunelia • 08 November 2019 17:30
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pihak kepolisian untuk mengusut kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum guru kepada muridnya di Bali. Dalam Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA), pelaku wajib diganjar hukuman berat jika terbukti merupakan orang terdekat korban.
 
"Karena orang tua korban sudah melaporkan kekekerasan seksual ini, maka KPAI akan memastikan kepolisian menggunakan UU 35/2015 tentang Perlindungan anak, agar pelaku mendapatkan sanksi maksimal sesuai UUPA," kata Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Jumat, 8 November 2019.
 
Retno menyatakan prihatin dan terkejut dengan kasus kekerasan seksual ini. Sebab yang menjadi tersangka dalam kasus ini bukan oknum guru laki-laki, melainkan guru perempuan dengan melibatkan dua orang siswa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Siswa tersebut diiming-imingi pulsa dan baju baru untuk memuaskan hasrat seksual oknum guru tersebut. "Selama menjadi Komisioner KPAI sejak 2017 baru kali ini saya menemui kasus dugaan kekerasan seksual oknum guru terhadap siswa dilakukan oleh guru perempuan. Biasanya pelaku guru atau kepala sekolah laki-laki dan anak korban ada yang perempuan dan ada yang laki-laki," ujar Retno.
 
KPAI akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Bali terkait status guru tersebut. Karena ia harus menjalankan proses hukum. Pelaku juga harus diproses secara kepegawaiannya.
 
"Guru seharusnya melindungi anak, tetapi yang bersangkutan justru menjadi pelaku pelanggaran hak anak dan membahayakan anak muridnya," papar Retno.
 
Ia juga meminta kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim untuk memberi perhatian khusus terkait kasus kekerasan seksual di dunia pendidikan. Sebab bukan hanya sekali, siswa menjadi korban pelecehan seksual oleh pendidik di sekolah.
 
"Selama ini, meskipun Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan sudah ada, akan tetapi pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah selama empat tahun terakhir ini tidak mengacu pada Permendikbud tersebut," tuturnya

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif