Membangun Indonesia Melalui Pendidikan dan Desa

UKDW Pertahankan KKN di Dalam Kurikulum

Intan Yunelia 19 November 2018 12:25 WIB
beasiswa osc
UKDW Pertahankan KKN di Dalam Kurikulum
Dokumentasi UKDW/Humas.
Jakarta: Universitas Kristen Duta Wacana (Yogyakarta) berkomitmen mempertahankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bagian dari kurikulum. Salah satu tujuannya agar kepekaan mahasiswa tetap terlatih terhadap persoalan masyarakat yang ada di desa.

Rektor UKDW, Henry Feriadi, mengungkapkan, tidak banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memasukkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bagian dari kurikulum pendidikannya.  Namun UKDW masih mempertahankan program KKN tersebut.


"Karena kegiatan ini memiliki tujuan bukan hanya untuk melatih kemandirian mahasiswa, namun juga melatih kepekaan mahasiswa terhadap permasalahan sosial budaya yang ditemui di desa," kata Henry dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id di Jakarta, Senin, 19 November 2018.

Menurut Henry, keberadaan perguruan tinggi harus bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, terutama masyarakat desa. Berbagai kegiatan kampus untuk meningkatkan peran universitas bagi masyarakat desa juga dilakukan UKDW melalui berbagai acara.

Salah satu kegiatan terbaru diselenggarakan Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Kristen Duta Wacana (FAD UKDW) yang menggelar Pameran dan Forum Diskusi Hasil Pengabdian Masyarakat pada 15-16 November 2018 kemarin.  Pameran ini dibuka secara resmi oleh Dekan FAD, Wiyatiningsih dan Sarah Camara dari perwakilan Lembaga Indonesia Perancis (LIP/IFI).

Pameran yang berlangsung di Atrium Agape ini menampilkan karya-karya hasil pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan dosen-dosen FAD.  Dalam pameran ini, terdapat komunitas atau mitra FAD yang turut terlibat, antara lain Kelompok Pengrajin Tenun Inaduta Sumba Tengah, Wisata Edukasi Gerabah Bojonegoro, Koperasi Griya Jati Rasa, Paguyuban Batik Tulis Langensari dengan karya batik tulis pewarna alami, Pengembangan Ekonomi Jemaat GKJ Pakem dengan karya ecoprint, dan Gereja Keluarga Kudus Banteng dengan karya shibori.

"Menariknya, dalam pameran ini pengunjung juga dapat melihat secara langsung proses pembuatan kain tenun adat yang dikerjakan oleh dua orang perajin tenun asal Sumba Tengah yaitu Ibu Yakoba Weru Niga dan Bapak Dominggus Runga Kosi," ujar salah satu panitia acara, Christmastuti Nur.

Walaupun hanya berlangsung selama dua hari, namun pameran ini mendapat animo yang cukup
tinggi, baik dari mahasiswa, pegawai UKDW, maupun tamu dari luar negeri yang hadir dalam
penyelenggaraan Seminar Internasional SMART.  Berbagai produk seperti kain tenun, celengan gerabah, aneks snack, kopi, tas tangan, pakaian motif shibori pun terjual laris dalam pameran ini.

“Selain pameran, dalam acara ini diselenggarakan pula forum diskusi di Ruang Rudy Budiman dengan mendatangkan narasumber yang berasal dari desa-desa mitra FAD UKDW.” kata Christmastuti.

Narasumber yang dimaksud adalah Wahyudi Anggoro Hadi, selaku Kepala Desa Panggungharjo, Bantul, Muslih, Kepala Desa Rendeng, Bojonegoro, dan Apolos Dewa Praingu selaku Kepala Desa Anajiaka, Sumba Tengah. Diskusi ini merupakan forum yang difasilitasi oleh FAD UKDW.

Tujuannya agar desa-desa yang menjadi mitra FAD dapat saling berbagi pengalaman dalam menggali potensi desa, mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), maupun mengatasi kendala dan permasalahan yang timbul dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

“FAD UKDW sebagai bagian dari institusi akademik memiliki tanggung jawab dalam mendukung desa-desa di seluruh Indonesia untuk menggali dan mengembangkan potensi desa demi kemajuan perekonomian masyarakat desa.” ujar Kristian Oentoro, selaku ketua panitia.

Acara ini diakhiri dengan penandatanganan kerja sama (MoU) antara FAD UKDW dengan TK Taman Indria Ibu Pawiyatan Taman Siswa, Desa Anajiaka Sumba Tengah, Desa Rendeng Bojonegoro, dan Desa Panggungharjo



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id