Pengukuhan guru besar Unhas. Foto: Dok. Unhas
Pengukuhan guru besar Unhas. Foto: Dok. Unhas

Kampus dengan Guru Besar Terbanyak di Indonesia, Unhas Tambah 3 Profesor Lagi

Citra Larasati • 09 Februari 2022 19:29
Jakarta:  Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mengukuhkan guru besar dalam Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas dalam rangka upacara Penerimaan Jabatan Profesor pada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).  Sebanyak tiga guru besar dikukuhkan dalam kesempatan tersebut.
 
Prosesi pengukuhan dihadiri oleh Rektor Unhas, Dwia Aries Tina Pulubuhu, Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik, Dewan Professor, tamu undangan, serta keluarga besar dari ketiga profesor yang dikukuhkan.

Tiga guru besar Unhas yang dikukuhkan:

1. Prof. H. Yahya Thamrin, SKM., M.Kes., MOHS., Ph.D. yang merupakan guru besar bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan nomor keanggotaan 440. Lahir di Maros pada 18 Februari 1976.
 
2. Prof. Dr. Nurhaedar Jafar, Apt., M.Kes. Guru Besar bidang Penentuan Status Gizi dengan nomor keanggotaan 441 bidang . Lahir di Sewo, 13 Juli 1964.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


3. Prof. Dr. dr. Hj. Syamsiar S. Russeng, M.S. Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan nomor keanggotaan 442. Lahir di Sengkang, 21 Desember 1959.
 
Dwia dalam sambutannya mengucapkan selamat dan bangga atas pengukuhan tiga guru besar FKM. Dwia mengatakan, proses pengukuhan merupakan satu momen berkesan, di mana para guru besar menyampaikan upaya akademik yang telah dilakukan.
 
Saat ini, Unhas merupakan perguruan tinggi dengan jumlah guru besar terbanyak di Indonesia. Namun, menjadi tantangan tersendiri bagaimana agar kontribusi tersebut berlangsung secara maksimal dan optimal.
 
“FKM mempunyai pamor tinggi, hal ini terlihat dari kepercayaan para mitra terhadap FKM. Sebagai salah satu fakultas di Unhas, FKM Mempunyai sumber daya berkualitas dan memiliki posisi strategis yang sangat kuat melalui pogram preventif yang dihadirkan,” jelas Dwia.
 
Sebelumnya, telah dilakukan pidato pengukuhan hasil penelitian dari masing-masing guru besar.

Prof. H. Yahya Thamrin, SKM., M.Kes., MOHS., Ph.D

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Yahya memaparkan tentang “Peran Sektor Pendidikan Dalam Pemenuhan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam Upaya Terwujudnya Safety Culture”. Yahya menjelaskan, terkait K3 sebagai standar dan budaya perlindungan, pembudayaan K3 dalam konteks global serta peran sektor pendidikan dalam membangun budaya K3.
 
Prof. Yahya menjelaskan K3 merupakan salah satu aspek perlindungan ketenagakerjaan dan merupakan hak dasar dari bukan hanya setiap tenaga kerja yang ruang lingkupnya telah berkembang. Akan tetapi, juga mencakup keselamatan dan kesehatan masyarakat.
 
Industrialisasi di seluruh sektor pembangunan ekonomi yang sedang berkembang selain menumbuhkan tingkat kesejahteraan masyarakat utamanya pekerja, di sisi lain mengakibatkan dampak negatif berupa terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
 
“Semua pihak berkewajiban dan berperan aktif sesuai fungsi dan kewenangannya untuk melakukan berbagai upaya dibidang K3 secara terus menerus dan berkesinambungan serta menjadikan K3 sebagai bagian dari budaya kerja. Dengan harapan, dapat mencegah kasus kecelakaan dan penyakit kerja,” jelas Yahya.

Prof. Dr. Nurhaedar Jafar, Apt., M.Kes

Melalui pidato pengukuhannya mengenai “Penerapan Self Determination Theory (SDT), Ada Edukasi Gizi Seimbang untuk Pencegahan Sindrom Metabolik”, ia memaparkan bagaimana penerapan SDT dalam edukasi gizi seimbang untuk mencegah penyakit tidak menular, di antaranya adalah sindrom metabolik (SM).
 
Nurhaedar mengatakan, SM merupakan kelainan metabolik kompleks yang diakibatkan oleh peningkatan obesitas. Prevalensi SM menunjukkan tren peningkatan seiring dengan peningkatan kejadian obesitas.
 
Salah satu cara menurunkan prevalensi obesitas adalah melalui pendidikan gizi seimbang. Penerapan pendidikan gizi telah berhasil pada berbagai aspek, di antaranya untuk menjaga berat badan.
 
Upaya pengendalian SM salah satunya adalah dengan melakukan perubahan perilaku yang didasarkan atas keinginan sendiri. Pemberian pendidikan, konseling dan dukungan memberikan hasil positif dan adopsi jangka panjang dengan menerapkan konsep Self Determination Theory (SDT).
 
“SDT merupakan konsep yang memprediksi perilaku dan konsekuensinya, motivasi adalah hal penting dalam pendekatan ini,” kata Nurhaedar.

Prof. Dr. dr. Hj. Syamsiar S. Russeng, M.S

Dalam pidato pengukuhannya, Syamsiar memaparkan tentang “Penguatan Hierarki Pengendalian Kelelahan Kerja untuk Mencegah Kecelakaan Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya”. Penelitian yang dilakukan berfokus tentang kelelahan pada pengemudi sebagai salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas di jalan raya.
 
“Untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan dan gangguan kesehatan akibat kerja perlu suatu perlakuan atau penerapan manajemen yang baik terkait pekerja, termasuk pengemudi,” kata Syamsiar.
 
Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak.
 
Pada susunan syaraf pusat terdapat sistem aktivitas (bersifat simpatis) dan inhibisi (bersifat parasimpatis). Penyebab terjadinya kelelahan antara lain aktivitas kerja fisik, mental, ruang kerja yang tidak ergonomik, sikap kerja hingga kebutuhan kalori kurang.
 
Hierarki pengendalian kelelahan kerja pengemudi adalah mempersiapkan diri dengan cukup tidur, mengatur sif atau jam kerja dan tidak memaksakan untuk mengoperasikan kendaraan jika dalam kondisi yang kurang sehat. Pengusaha wajib melakukan pemeriksaan kesehatan berkala kepada pengemudi, pelatihan tanggap darurat dan pengenalan tanda-tanda kelelahan.
 
“Pengemudi harus menyadari akan pentingnya kesalamatan dalam bekerja/berkendara dengan cara mengenal hazard-hazard (kelelahan) yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, karena hazard terbesar dalam berkendara adalah kegagalan mengenali hazard itu sendiri,” jelas  Syamsiar.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif