Ilustrasi Buddha. MI/Andri Widiyanto
Ilustrasi Buddha. MI/Andri Widiyanto

Biografi Siddhartha Gautama, Sang Pendiri Agama Buddha

Medcom • 24 Mei 2022 20:52
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom mengunjungi Maha Vihara Mojopahit di Mojokerto, Jawa Timur? Di sana, terdapat patung raksasa Siddhartha Gautama atau dikenal juga sebagai Sang Buddha.
 
Dengan panjang mencapai 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter, patung ini dinobatkan sebagai Patung Buddha Tidur terbesar di Indonesia. Bahkan, patung dengan posisi tertidur itu merupakan yang terbesar ketiga di dunia setelah Thailand dan Nepal.
 
Bukan sembarang pose, posisi tertidur itu menggambarkan detik-detik wafatnya Sang Buddha. Beliau wafat dalam posisi tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepala, sebagaimana kebiasaannya saat beristirahat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk mengenal sosok Siddhartha Gautama lebih lanjut, simak biografi berikut ini yang dikutip dari Ruangguru:

Sekilas tentang Siddharta Gautama

Siddhartha Gautama merupakan seorang guru, filsuf, dan pemimpin spiritual. Tanggal kelahiran dan wafat Siddhartha tidak diketahui pasti, namun diperkirakan lahir sekitar 623 SM dan wafat pada 543 SM.
 
Siddhartha Gautama dikenal sebagai pendiri agama Buddha. Pemeluk agama ini menganggap beliau sebagai Buddha Agung (Samm?sambuddha).
 
Nama Siddhartha Gautama bermakna “seseorang yang mencapai tujuannya”, sedangkan nama Buddha memiliki arti “seseorang yang terbangun”, “seseorang yang tercerahkan”, atau “orang yang telah mencapai penerangan sempurna”. 
 
Semasa hidupnya, Siddharta telah bermeditasi dengan berbagai pengajaran atau ilmu yang berbeda. Namun, beliau merasa pengajaran tersebut masih belum bisa memberikan jawaban.
 
Hingga akhirnya, Siddharta memutuskan menghabiskan malam untuk bermeditasi mendalam di bawah pohon Bodhi. Saat meditasi tersebut, semua jawaban yang beliau cari selama ini akhirnya tercerahkan jelas.
 
Lantaran telah mencapai pencerahan yang sempurna, Siddharta menjadi Buddha. Dia lantas tinggal dan mengajar di wilayah sekitar perbatasan Nepal dan India modern antara abad ke-6 hingga ke-4 SM.

Kehidupan Siddharta sebelum menjadi Sang Buddha

Siddhartha tumbuh sebagai seorang anak laki-laki dari penguasa klan Shakya. Itulah sebabnya, beliau juga dikenal sebagai Shakyamuni yang berarti “orang bijak dari kaum Shakya”.
 
Siddhartha merupakan anak dari pasangan Suddhodana dan Maya Devi. Sayangnya, sang ibu, Maya Devi, meninggal tujuh hari setelah melahirkan Siddharta.
 
Sang ayah lantas membesarkan Siddharta di tengah kemewahan istana yang khusus dibangun untuk anaknya. Hal ini dilakukan demi melindungi Siddharta dari pengetahuan tentang dunia luar, termasuk kesedihan dan penderitaan duniawi.
 
Siddhartha muda pernah diramalkan oleh seorang lelaki suci. Menurut ramalan tersebut, Siddharta akan tumbuh menjadi sosok yang hebat, entah itu menjadi raja, pemimpin militer, atau pemimpin spiritual.
 
Ketika usianya menginjak 16 tahun, Siddhartha menikah dengan putri Yashodhara. Dia dikaruniai putra bernama R?hula dari pernikahan tersebut.
 
Meskipun telah berkeluarga, kehidupan Siddharta masih terisoloasi dari dunia luar. Hal itu terus berlanjut hingga 13 tahun kemudian.

Kehidupan Siddharta saat mulai mengenal dunia luar

Bertahun-tahun hidup terisolasi, Siddhartha tak banyak memiliki pengetahuan maupun pengalaman tentang dunia yang sesungguhnya. Beliau baru mulai keluar istana dan mengenal dunia luar setelah menginjak usia dewasa.
 
Suatu hari, ketika sedang berkelana bersama kusirnya, dia melihat seorang lelaki yang sangat tua. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa di dunia ini, semua orang akan bertumbuh tua, seperti orang yang dilihatnya itu.
 
Siddhartha pun mulai melakukan lebih banyak perjalanan penjelajahan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang dunia luar yang selama ini tidak beliau ketahui.
 
Selama berkelana, Siddharta bertemu dengan beragam bentuk manusia, mulai dari pria yang sakit, mayat manusia yang membusuk, hingga seorang pertapa. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa pertapa tersebut telah meninggalkan kegiatan duniawinya untuk mencari pembebasan dari ketakutan manusia akan kematian dan penderitaan.
 
Siddharta terus memikirkan penjelasan mengenai pertapa tersebut. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk meninggalkan istri dan anaknya agar bisa menempuh jalan spiritual yang lebih mendalam.
 
Siddharta bertekad menemukan cara meringankan penderitaan universal yang telah dipahami sebagai salah satu ciri khas kemanusiaan.

Kehidupan Siddharta sebagai pertapa hingga menjadi Sang Buddha

Enam tahun berikutnya, Siddhartha hidup sebagai pertapa. Dia belajar dan bermeditasi dengan ilmu yang didapatnya dari berbagai guru spiritual sebagai pedoman.
 
Siddharta mempraktikkan cara hidup baru ini bersama dengan sekelompok pertapa yang terdiri atas lima orang. Karena sangat berdedikasi mencari jawaban atas pertanyaan hidupnya, kelima pertapa itu memutuskan menjadi pengikut Siddhartha.
 
Ketika jawaban atas pertanyaannya tidak ditemukan, Siddhartha akan menggandakan usahanya, menahan rasa sakit, berpuasa, bahkan menolak air minum. Namun, setelah mencoba berbagai hal, Siddhartha masih belum mencapai tingkat wawasan yang dicari. 
 
Hingga suatu hari, seseorang menawarinya semangkuk nasi. Dari kejadian sederhana itu, Siddharta menyadari bahwa pertapaan jasmani bukanlah cara untuk mencapai pembebasan batin.
 
Siddhartha sadar, hidup di bawah batasan fisik yang keras tidak akan membantunya mencapai pelepasan spiritual. Dia akhirnya mengambil nasi, minum air, dan mandi di sungai.
 
Kelima pertapa yang menyaksikan hal ini mengira Siddhartha telah menyerah hidup di jalan pertapa. Sehingga, mereka pun memutuskan untuk berhenti menjadi pengikutnya.
 
Suatu malam, Siddhartha duduk sendirian di bawah pohon Bodhi. Siddhartha bertekad untuk tidak bangun sampai kebenaran yang beliau cari datang kepadanya.
 
Benar saja, Siddhartha bermeditasi dan tinggal di bawah pohon Bodhi selama beberapa hari. Selain memurnikan pikirannya, dia juga melihat seluruh hidupnya dan kehidupan sebelumnya dalam pikirannya.
 
Selama bermeditasi, Siddhartha harus mengatasi ancaman Mara, sosok iblis jahat yang menentang haknya untuk menjadi Buddha. Mara mengeklaim bahwa keadaan tercerahkan merupakan miliknya dan Siddhartha tidak akan bisa mendapatkannya.
 
Pada malam itu pula, Siddhartha bertekad mengusir Mara. Dia lantas menyentuhkan tangannya ke tanah dan meminta bumi untuk menjadi saksi atas pencerahannya.
 
Sebuah gambaran tentang semua yang terjadi di alam semesta pun mulai terbentuk di benak Siddhartha. Dia akhirnya melihat jawaban atas pertanyaan penderitaan yang telah dicarinya selama bertahun-tahun.
 
Pada saat pencerahan murni itu, Siddhartha Gautama menjadi Buddha dan berhasil mengusir Mara. Berbekal pengetahuan barunya, Sang Buddha semula ragu untuk mengajar, karena apa yang beliau ketahui tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain dengan kata-kata.
 
Namun, saat itulah Sang Raja para Dewa, Brahma, meyakinkan Buddha untuk tetap mengajar. Sang Buddha bangkit dari tempatnya di bawah pohon Bodhi dan berangkat untuk mengajarkan ilmu yang telah beliau dapatkan.

Wafatnya Sang Buddha

Buddha diperkirakan meninggal sekitar usia 80 tahun karena sakit. Sebelum berpulang, dia berpesan kepada muridnya untuk tidak sekadar mengikuti pemimpin, tetapi juga harus "menjadi terangmu sendiri".
 
Sang Buddha wafat dengan posisi seperti tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepalanya. Posisi tersebut kini banyak diabadikan menjadi patung Buddha Tidur atau Sleeping Buddha di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. (Nurisma Rahmatika)
 
Baca: Mengenal Margaret Thatcher, ‘Wanita Besi’ Pengubah Dunia
 

 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif