Ilustrasi email. Medcom.id
Ilustrasi email. Medcom.id

Benarkah Hapus Email Dapat Kurangi Emisi Karbon? Ini Kata Pakar Unair

Pendidikan pemanasan global wfh UNAIR Emisi Karbon
Renatha Swasty • 19 April 2022 14:07
Jakarta: Beberapa waktu terakhir media sosial diramaikan dengan isu menghapus email dapat mengurangi pemanasan global. Benarkah hal itu berpengaruh?
 
Pakar sains data Universitas Airlangga (Unair) Muhammad Noor Fakhruzzaman (Ruzza) menjawab isu itu. Dia menegaskan isu itu tidak benar.
 
“Walaupun kita hapus semua email kita, server akan terus berjalan dan mengkonsumsi energi listrik yang mengeluarkan emisi karbon selama ada aktivitas surat menyurat pengguna email,” ujar Ruzza dikutip dari laman unair.ac.id, Selasa 19 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ruzza menuturkan data dari Dewan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Nasional (wantiknas) menunjukkan pandemi covid-19 meningkatkan aktivitas digital masyarakat secara signifikan. Traffic penggunaan media sosial WhatsApp dan Instagram meningkat 40 persen, belum lagi virtual meeting akibat work from home (WFH) dan pembelajaran daring.
 
Dia menyebut ketimbang penggunaan email, aktivitas sosial media dan virtual meeting jauh lebih memakan banyak energi. Pasalnya, kebutuhan energi dari sosial media jauh lebih besar karena harus mentransmisikan data berupa gambar dan video.
 
Selain itu, kebanyakan server yang digunakan platform sosmed dan virtual meeting berada di luar negeri. Ruzza mengungkapkan semakin jauh jarak antara server dan pengguna juga berpengaruh terhadap semakin banyaknya daya yang dikonsumsi.
 
“Pada dasarnya, internet adalah jaringan komputer yang saling terhubung, yang mana semakin jauh jarak pengguna juga akan membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk sampai pada server yang dituju,” kata dosen Teknologi Sains Data Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) tersebut.
 
Ruzza menjelaskan aktivitas digital tidak langsung berdampak pada emisi karbon, melainkan bergantung pada sumber energi yang digunakan. Dia menyebut beberapa perusahaan besar sudah memakai sumber energi yang terbarukan, khususnya di Eropa, sehingga lebih ramah ketimbang penggunaan bahan bakar fosil.
 
“Karena pembangkit listrik tenaga surya, air, angin, panas bumi, dan nuklir mengeluarkan emisi karbon yang jauh lebih kecil daripada tenaga fosil. Saya harap pemerintah sudah mulai mempertimbangkan penggunaan energi baru dan terbarukan tersebut,” tutur dia.
 
Ruzza mengungkapkan sebagai digital native yang bisa kita lakukan ialah meminimalisir penggunaan barang elektronik secara berlebihan. Ruzza mengajak masyarakat menggunakan perangkat yang sudah berstandar energy star.
 
“Karena perangkat-perangkat tersebut sudah lolos uji efisiensi energi sehingga bisa menghemat penggunaan listrik,” tutur dia.
 
Baca: Es di Puncak Jayawijaya Diprediksi Hilang 2025
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif