Pengukuhan guru besar Fakultas Teknik UI.  Foto: UI/Dok. Humas
Pengukuhan guru besar Fakultas Teknik UI. Foto: UI/Dok. Humas

UI Tambah Dua Guru Besar Fakultas Teknik

Pendidikan Pendidikan Tinggi Guru Besar
Muhammad Syahrul Ramadhan • 11 Desember 2019 19:18
Jakarta: Universitas Indonesia (UI) kembali mengukuhkan dua guru besar dari fakultas teknik. Kedua profesor tersebut memiliki kepakaran di bidang manajemen rekayasa material dan bidang material komposit.
 
Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, PhD memimpin Upacara Pengukuhan dua Profesor Fakultas Teknik UI (FTUI). Kedua guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Djoko Sihono Gabriel, M.T sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang manajemen rekayasa material dan Prof. Dr. Ir. Asep Handaya Saputra, M.Eng sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang material komposit.
 
Djoko menyampaikan pidato pengukuhan bertajuk “Sampah Plastik, Konservasi Nilai Material dan Keberlanjutan Industri”. Pilihan tema ini berangkat dari keprihatinan akan ketergantungan pada kemasan plastik yang sangat sulit dihindari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hingga saat ini, baru 9% sampah plastik yang berhasil didaur ulang," ujar Djoko dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai guru besar di Kampus UI Depok, Jawa barat, Rabu, 11 Desember 2019.
 
Sebagai gambaran, pada 2050 limbah plastik yang masuk ke dalam lautan akan lebih berat daripada berat ikan-ikan di lautan itu sendiri. Pada dasarnya terdapat dua sumber persoalan sampah plastik yang tengah dihadapi saat ini, yaitu lemahnya pengurusan sampah dan rendahnya harga jual sampah plastik.
 
Akibatnya, sebagian besar tidak lagi laku dijual. Hingga saat ini, paradigma yang ada di tengah masyarakat adalah mengatasi keberadaan kemasan plastik yang sudah terlanjur menjadi sampah.
 
Namun, Djoko mengajak masyarakat untuk mengubah paradigma tersebut menjadi cara pandang baru, yaitu Konservasi Nilai Material (KNM) atau material value conservation.
 
Djoko menuturkan, penerapan paradigma baru KNM dimulai dari mencari penyebab mengapa harga jual sampah plastik rendah atau bahkan tidak memiliki daya jual. Kemudian mencari langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka menghambat penurunan harga jual material pada sampah kemasan plastik.
 
Ia berharap, dengan berubahnya pola pikir tersebut usai penggunaan kemasan plastik selesai, sampahnya tetap memiliki harga jual yang tinggi. "Karena menguntungkan untuk didaur ulang menjadi bijih plastik," kata Djoko.
 
Sementara Asep menyampaikan tema tentang Erosi dan Korosi Material Komposit Berbasis Resin Epoksi” sebagai judul pidato pengukuhannya. Menurutnya, ilmu bahan berkembang semakin kompleks.
 
Perkembangan ini mengikuti kebutuhan masyarakat serta dunia industri. Di dalam ilmu bahan, terdapat salah satu klasifikasi yaitu material komposit.
 
Material komposit dalam perkembangan telah banyak menggantikan logam, karena keistimewaannya dalam hal kekuatan, lebih ringan dan mempunyai ketahanan terhadap korosi.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif