Kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, membangun relasi, serta memahami dasar-dasar bisnis tetap menjadi keterampilan penting. Hub Campus Leader Globis University, Shoko Namba, mengatakan kemampuan manusia untuk menghasilkan gagasan baru menjadi salah satu hal yang perlu dipertahankan di tengah perkembangan AI.
Selain itu, kemampuan mengambil keputusan dilakukan oleh manusia. Shoko mengatakan manusia tidak perlu berusaha melawan perkembangan AI.
Sebaliknya, AI perlu dimanfaatkan sebagai teknologi yang dapat membantu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. "Kita tidak perlu melawan AI, tetapi kita harus tahu bagaimana AI bisa membantu kita dan apa yang sedang berlaku di era teknologi,” ucap Shoko dalam wawancara media di Ayana Midplaza, Jakarta Pusat, Rabu, 7 Oktober 2026.
Hal ini menjadi salah satu tantangan manusia dalam menghadapi perkembangan AI, yakni risiko ketergantungan terhadap informasi yang diberikan AI. Oleh karena itu, manusia perlu memiliki kemampuan untuk menilai apakah informasi yang diberikan AI benar atau tidak.
Manusia harus memiliki pengetahuan atau kemampuan untuk melakukan verifikasi agar dapat mengetahui kekeliruan yang dihasilkan oleh AI. Hal ini sejalan bahwa kemampuan belajar secara mandiri dan melakukan penilaian terhadap informasi menjadi semakin penting di era AI.
Di tengah perubahan teknologi, generasi muda juga perlu memiliki perspektif lebih luas. Shoko menilai keberagaman latar belakang dapat membantu seseorang menemukan gagasan baru.
Di lingkungan Globis, mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang dan pengalaman sehingga sangat mendukung mahasiswa saling belajar dan mengembangkan cara pandang berbeda.
Menurut Shoko, keberagaman bukan hanya penting dalam lingkungan pendidikan, tetapi juga membantu seseorang menghadapi perkembangan AI.
"Berinteraksi dengan orang-orang yang berdiversifikasi, sangat penting untuk memahami dan menghadapi perkembangan AI," ujar dia.
Perspektif global tersebut juga dapat membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk memperoleh pengalaman internasional, termasuk belajar mengenai praktik bisnis di Jepang dan membangun jaringan dengan komunitas internasional.
Selain keterampilan teknis dan berpikir kritis, Shoko juga menekankan pentingnya seseorang memiliki gaya kepemimpinan sendiri. Kemampuan kepemimpinan diperlukan untuk memahami kemampuan dirinya dan mengarahkan karier sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
"Menurut saya sangat penting untuk memiliki gaya kepemimpinan sendiri untuk menguruskan karier, kehidupan, dan untuk mencapai tujuan," ujar dia.
Hal tersebut berkaitan dengan konsep Kokorozashi sebagai misi pribadi atau tujuan yang ingin dicapai. Melalui penerapan misi pribadi, perubahan dalam pekerjaan bukan suatu akhir dari karier karena selalu ada jalan lain untuk tetap mencapai tujuan yang ingin diwujudkan.
Perkembangan AI akan terus berlangsung dan dunia kerja juga dapat mengalami perubahan. Generasi muda perlu belajar menggunakan teknologi dengan tetap mengembangkan kemampuan yang membuat mereka mampu beradaptasi.
Beberapa kemampuan yang perlu dipersiapkan meliputi:
- Berpikir kritis, untuk menilai informasi dan menggunakan AI secara tepat.
- Kemampuan beradaptasi, agar dapat mengikuti perubahan teknologi dan dunia kerja.
- Komunikasi, untuk menyampaikan gagasan dan bekerja dengan orang dari berbagai latar belakang.
- Kreativitas dan orisinalitas, agar tidak hanya bergantung pada hasil yang diberikan AI.
- Pemahaman fundamental bisnis, sebagai dasar untuk berkomunikasi dan mengambil keputusan di lingkungan profesional.
- Kepemimpinan, untuk menentukan arah karier dan kehidupan.
- Kemampuan membangun relasi, karena manusia tetap membutuhkan interaksi dan perspektifa dari orang lain.