Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Dok. Pemerintah DIY
Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Dok. Pemerintah DIY

Sri Sultan Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan, Apa yang Dipelajari?

Muhammad Syahrul Ramadhan • 07 Mei 2026 15:08
Ringkasnya gini..
  • Menjaga jati diri generasi muda agar tetap memiliki kedewasaan nilai di tengah gempuran teknologi dan globalisasi.
  • Berfokus pada falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dan karakter Satriya (Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh).
  • PKJ melibatkan peran aktif lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (Kraton, Kampus, Kampung) untuk keberhasilan pendidikan karakter.
Jakarta: Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengambil langkah strategis untuk menjaga jati diri generasi muda. Pada Senin, 4 Mei 2026, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara resmi meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

Program ini bukan sekadar kurikulum tambahan, melainkan sebuah gerakan kebudayaan untuk memastikan pelajar Yogyakarta tidak tercerabut dari akar budayanya.
 
"Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri," ujar Sri Sultan.

Apa yang Dipelajari dalam Pendidikan Khas Kejogjaan?

PKJ dirancang untuk membentuk manusia yang utuh, tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga dewasa secara nilai. Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi materi dan ruh dalam pendidikan ini:

Falsafah Hamemayu Hayuning Bawana 

Materi utama PKJ bersumber dari falsafah luhur ini, yang mengajarkan siswa untuk selalu menjaga harmoni dan keseimbangan antara hubungan sesama manusia, alam lingkungan, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Karakter Jiwa Satriya (Sawiji, Greget, Sengguh, lan Ora Mingkuh) 

Siswa diajarkan untuk memiliki empat pilar karakter utama:
  • Sawiji: Konsentrasi total atau jati diri yang fokus.
  • Greget: Semangat dan dinamika dalam bertindak.
  • Sengguh: Kepercayaan diri yang tetap rendah hati.
  • Ora Mingkuh: Pantang menyerah dan bertanggung jawab.

Kepekaan Sosial (Karyenak Tyasing Sasama) 

Pendidikan ini menekankan pentingnya menciptakan ketenteraman bagi sesama. Hal ini diharapkan menjadi solusi atas tantangan sosial, termasuk menekan angka kekerasan atau geng pelajar yang belakangan masih terjadi.
 

Integrasi Nilai Multikultural 

Materi PKJ bersifat inklusif dengan menyerap nilai-nilai luhur dari berbagai institusi besar di Jogja, seperti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Tamansiswa, Nahdlatul Ulama (NU), hingga Muhammadiyah.

Implementasi dan Sinergi Ekosistem

Sri Sultan menekankan bahwa pendidikan ini tidak boleh hanya berhenti di ruang kelas. Efektivitas PKJ bertumpu pada sinergi antara Kraton, Kampus, dan Kampung. Artinya, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat harus menjadi satu ekosistem yang utuh dalam membentuk karakter siswa.
 
Plt. Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, menambahkan bahwa PKJ tidak hanya diajarkan sebagai mata pelajaran sejarah, tetapi diintegrasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari di sekolah. Saat ini, implementasi PKJ menunjukkan tren positif dengan skor indeks karakter mencapai 4,1 dari skala 5.

(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA