Jakarta: Bayangkan jika generasi masa kini bisa berbincang langsung dengan mendiang Frans Seda, tokoh bangsa sekaligus salah satu pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya? Pengalaman lintas generasi ini sukses diwujudkan lewat inovasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam puncak perayaan Frans Seda Centennial Celebration: Empowering the Next Generation di Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya.
Mengusung semangat pemberdayaan kaum muda, perayaan satu abad kelahiran Frans Seda ini memadukan sejarah dan kecanggihan teknologi secara apik. Kegiatan ini meramu pemikiran sang negarawan menjadi sajian yang sangat relevan dan kekinian di mata generasi muda.
Rekam jejak Frans Seda di dunia pendidikan memang tak lekang oleh waktu. Keterlibatannya merintis Unika Atma Jaya pada 1960 menjadi bukti nyata bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan kebijakan politik, tetapi butuh fondasi pendidikan karakter yang kuat.
Hingga kini, Atma Jaya terus merawat visi tersebut dengan mencetak lulusan berilmu, berintegritas, dan peka terhadap isu sosial masyarakat. Puncak acara ini diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta sekaligus Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya, Ignatius Kardinal Suharyo.
Dalam homilinya, ia merefleksikan rekam jejak Frans Seda yang sejak muda konsisten mewartakan kebaikan di berbagai lini kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, hingga pendidikan. Ia juga mengajak generasi muda untuk mencari cara-cara baru dalam merawat warisan sang tokoh.
“Warisan ini diteruskan kepada kita untuk kita jaga, untuk kita rawat, dan untuk kita kembangkan dengan mencari jalan-jalan yang baru. Intinya sama, tujuannya sama, yaitu meresapi tata dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai Injil,” ujar Kardinal Suharyo.
Sejalan dengan hal tersebut, Managing Director Frans Seda Foundation, Stefanus Ginting, menjelaskan bahwa tema Empowering the Next Generation sengaja dibungkus dengan elemen yang akrab dengan anak muda, seperti pemanfaatan teknologi AI, musik, dan drama musikal. Rektor Unika Atma Jaya Prof. Yuda Turana turut menekankan agar mahasiswa masa kini berani menjadikan Frans Seda sebagai role model dalam mewujudkan nilai "Untuk Tuhan dan Tanah Air" lewat tindakan nyata sehari-hari.
Keseruan acara kian terasa lewat iringan musik sasando dan pentas teater musikal dari Teater UTTA (Untuk Tuhan dan Tanah Air), yang mengisahkan sepak terjang sang menteri dari masa kecil hingga menduduki pos pemerintahan strategis. Puncaknya, usai pementasan, audiens dari berbagai lintas generasi, mulai dari tokoh akademisi, mahasiswa, hingga pelajar SMA, diajak "Bincang Bersama Frans Seda" secara interaktif menggunakan teknologi AI, membuktikan bahwa pemikiran beliau masih sangat tajam untuk membedah tantangan zaman now.
Lebih dari sekadar euforia selebrasi, perayaan ini juga mewadahi kreativitas sineas muda lewat kompetisi karya film vertikal, cerpen, ilustrasi, dan reels. Kepedulian sosial Frans Seda juga langsung dieksekusi melalui donasi "Gerakan 100 Sahabat untuk Sekolah".
Gerakan ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp145 juta yang akan dialokasikan penuh untuk merenovasi SMPS Katolik Ile Bura dan Asrama San Marco di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Satu abad berlalu, inspirasi Frans Seda terbukti menembus batas zaman. Melalui perayaan ini, generasi penerus ditantang untuk tidak hanya berhenti pada sebatas mengenang sejarah, melainkan mampu menerjemahkan teladan integritas sang tokoh menjadi karya dan dampak nyata bagi Ibu Pertiwi.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan