Kesembilan wisata tersebut adalah wisata perdesaan, pendakian gunung dan olahraga paralayang, olahraga marathon, bahari kapal layar (yachting) dan selam (diving), olahraga arung jeram, Wisata gua dan paramotor, ekowisata, wisata hantu, dan wisata milenial (youth tourism), serta wisata relawan (voluntourism).
Menurut Diaz, jenis wisata tersebut akan memberi dampak lebih signifikan untuk ekonomi nasional dan masyarakat dibandingkan dengan wisata massal. Sehingga mendukung program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Ia juga merekomendasikan, untuk memberikan pengalaman wisata yang lebih baik, aman dan terjaga keberlanjutannya, para pelaku wisata perlu memenuhi sejumlah aspek yaitu membatasi jumlah peserta. "Dengan mempertimbangkan daya dukung dan kelestarian lingkungan, perencanaan secara detil, memberi dampak langsung kepada masyarakat, serta mendukung penciptaan citra positif pariwisata Indonesia," terang Diaz, Jumat, 11 Desember 2020.
Baca juga: Menristek: Inovasi Anak Negeri Selama Pandemi Geser Produk Impor
Diaz mengatakan, “pandemi covid-19 telah menyebabkan pergeseran dari paradigma “safety first” menjadi “healthy first”. Para pengusaha wisata minat khusus juga harus memenuhi protokol kesehatan agar meningkatkan kepercayaan dan memberi jaminan kesehatan dan kenyamanan pada wisatawan.
Pada kesempatan tersebut, Diaz juga mengundang para pakar untuk memberikan edukasi terkait pengembangan wisata minat khusus dan olahraga di Indonesia. "Dengan demikian diharapkan kegiatan ini dapat memberi wawasan kepada mahasiswa dan masyarakat Indonesia secara umum mengenai tahap normalisasi pandemi covid-19 di dunia wisata minat khusus,” kata Diaz.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News