Menristekdikti, Mohamad Nasir.  Foto:  Kemenristekdikti/Humas.
Menristekdikti, Mohamad Nasir. Foto: Kemenristekdikti/Humas.

Profesor Tak Capai Target Publikasi, Tunjangan Terancam Ditahan

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah
Intan Yunelia • 14 Oktober 2019 18:01
Jakarta: Guru besar yang tidak memenuhi target minimal satu publikasi internasional dalam kurun waktu tiga tahun terancam akan ditahan tunjangan kehormatan profesornya. Aturan yang merujuk pada Permenristekdikti nomor 20 tahun 2017 itu mulai diimplementasikan tahun depan.
 
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor sedang dievaluasi. Salah satu evaluasi, terkait jumlah publikasi riset akan memengaruhi tunjangan kinerja profesor.
 
“Evaluasi ini di 2019 nanti siapa yang tidak mencapai publikasi akan kita pending (ditunda) tunjangannya,” kata Nasir dalam evaluasi kinerja triwulan III tahun 2019 di Gedung Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin 14 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menyebutkan, bahwa Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 ini akan berlaku di 2020. Aturan tunjangan kinerja profesor berdasarkan jumlah publikasi sedang dirancang.
 
“Ini kan di tahun terakhir evaluasi. Ini di tahun 2020 masuknya. Persennya (berapa besarannya) diatur dalam Permenristedikti,” ujar Nasir.
 
Ia menargetkan bulan desember 2019 ini akan selesai evaluasinya. Selain jumlah publikasi, sedang disusun juga sejumlah indikator lain yang mempengaruhi besaran tunjangan kinerja profesor.
 
“Masih ada yang kita lihat indikatornya. Harapan saya bisa selesai semua nanti tahapannya sampai Desember,” ujarnya.
 
Sebelumnya, ribuan profesor terancam tidak mendapatkan tunjangan kehormatan jika mereka tidak menunaikan kewajiban publikasi di jurnal bereputasi internasional. Penyetopan tunjangan kehormatan profesor menunggu revisi Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.
 
Dalam Permenristekdikti 20 tahun 2017 disebutkan tunjangan kehormatan profesor akan diberikan jika memiliki paling sedikit satu jurnal bereputasi internasional dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Jika tak memenuhi persyaratan, maka tunjangan tersebut akan dihentikan sementara.
 
Revisi Permenristekdikti terkait tunjangan kehormatan profesor dikaitkan pertama kali diterapkan akhir 2019.Jumlah dosen Indonesia saat ini tercatat 283.653 orang, 5.463 di antaranya profesor, 58.986 lektor, dan 32.419 merupakan lektor kepala.
 
Pemotongan tunjangan kehormatan untuk profesor cukup siginifikan, yakni sebanyak tiga kali gaji pokok, termasuk tunjangan profesi dosen atau sertifikasi dosen.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif