Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Rizal)
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Rizal)

Menristekdikti Tekankan Produk Inovatif Start Up

Pendidikan startup start up technology
Intan Yunelia • 06 April 2019 02:31
Jakarta: Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan start up dengan nilai omzet tertinggi di Indonesia adalah aplikasi Satpam Pintar. Produk ini berkeahlian dibidang keamanan.
 
"Satpam Pintar adalah teknologi informasi dengan omzet mencapai Rp7 miliar," kata Nasir saat konferensi pers di Gedung D Kemenristekdikti, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat 5 April 2019.
 
Sedangkan start up kedua tertinggi mencapai omzet Rp6,5 miliar adalah Kapal Pelat Datar. Produk ini berada dibidang transportasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak hanya itu, star tup ketiga bernama Isolated Ground Shield Wire yang merupakan kabel listrik untuk voltase tinggi dan voltase sedang. Dalam bidang material aplikasi memiliki omzet sebesar Rp5 miliar.
 
Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menerangkan pentingnya tiga prinsip untuk pengembangan produk inovatif dari startup ini yaitu harga produksi yang relatif rendah, price competitiveness atau harga jual yang kompetitif, serta durability.
 
"Sudah saatnya para peneliti, perekayasa, maupun inovator muda di Indonesia memikirkan akan hal ini jika ingin berhasil dengan program startup-nya," tuturnya.
 
Sementara itu Direktur PPBT Retno Sumakar membeberkan kunci Kemenristekdikti dalam program Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT) yaitu terletak tak hanya dengan memberikan modal. Namun juga dengan bimbingan hasil riset dan inovasi agar sesuai dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
 
"Start up yang kita ambil ada dua. Satu, kita menjawab kebutuhan industri. Yang kedua itu hasil riset dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembanhan," terang Retno.
 
Hasil riset itu, ujarnya, akan dilihat dari Technology Readliness Level. Kesiapan teknologi akan menjadi fokus utama.
 
"Karena Jaman dahulu, start up banyak yang terhenti dan tidak bisa survive, yang mungkin start up di masa lampau dilakukan tanpa melakukan riset tentang kebutuhan pasarnya," papar Retno.

 

(BOW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif