Gunakan Pendekatan Kultural di Kampus

Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Tekan Radikalisme

Intan Yunelia 10 Juni 2018 13:20 WIB
Radikalisme di Kampus
Optimalisasi Pemanfaatan <i>Big Data</i> untuk Tekan Radikalisme
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Effendi Ghazali. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
Jakarta:  Pencegahan paham radikal di kampus dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan kultural, dan teknologi dengan memanfaatkan big data.  Ketimbang dengan cara-cara mempublikasikan data intelijen, yang justru kontraproduktif dan menimbulkan kegaduhan.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI), Effendi Ghazali menyampaikan, dengan kemampuan sumber daya dan alat yang dimiliki, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) seharusnya bisa mendeteksi dan menganalisis secara digital beragam arus informasi yang berbau radikalisme. Hal itu pula yang banyak dilakukan di negara-negara maju, bukan dengan mempublikasikannya (data intelijen).


"Dengan konteks big dataitu, bisa ketahuan kok. Siapa yang punya pengaruh atau tidak dalam percaturan medsos (media sosial). Artinya sampai batas apa mereka dianggap melanggar hukum," jelas Effendi.

Publikasi data intelijen yang belakangan dilakukan pemerintah ini kata Effendi, menyiratkan kepanikan pemerintah. Kebijakan ini menggeneralisasi kampus secara keseluruhan. Bukan tindakan yang mengenai sasarannya secara langsung.

"Sampai orang merasa gugup, panik, itu juga cerminan dari sikap yang relatif panik," jelasnya.

Sebelumnya, BNPT mengumumkan 7 nama kampus yang disebut telah terpapar radikalisme. Menurut Effendi, informasi itu seharusnya bersifat intelijen sehingga tak harus dipublikasikan.

"Tapi poin pentingnya adalah ketika anda melakukan upaya-upaya intelijen semacam itu kan tidak usah sampai anda harus umumkan," kata Effendi.

Menurut Effendi, publikasi ini justru menimbulkan kegaduhan. Semestinya, ketika diketahui ada kampus terpapar radikalisme BNPT bertindak tenang. Kemudian mengusahakan pendekatan lain, seperti pendekatan kultural.

"Mengidentifikasi masalahnya di mana, dan menemukan siapa yang bisa mengatasinya dengan cara-cara yang lebih baik dibanding hanya sekedar tunjuk," jelasnya.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id