“Mindset masyarakat yang belum menempatkan Pendidikan vokasi sebagai prioritas utama dalam melanjutkan pendidikan tinggi,” kata Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemeristekdikti, Patdono Suwignjo di Surabaya, Rabu 19 Desember 2018.
Patdono melanjutkan bahwa dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 pendidikan vokasi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki berbagai sertifikasi kompetensi. Oleh karenanya Kemenristekdikti tengah gencar untuk merancang berbagai kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi dalam penyelarasan kurikulum pendidikan, agar sesuai dengan kebutuhan industri
“Saat ini keterlibatan dunia industri belum optimal dalam pengembangan pendidikan vokasi,” terang Patdono.
Sementara itu, pendidikan tinggi yang dikelola swasta masih belum ada kesadaran penuh untuk membuat politeknik. Sehingga jumlah Pendidikan vokasi di Indonesia masih terbatas dan didominasi dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hal tersebut yang masih membuat masyarakat Indonesia ragu untuk melanjutkan sekolah ke pendidikan vokasi.
“Selama ini para orangtua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke universitas dibanding politeknik. Kita perlu menyadarkan masyarakat agar mau sekolah vokasi. Kita perlu buat politeknik menjadi pilihan yang menarik,” ujar Patdono.
Baca: Okupasi Terapis Profesi Menjanjikan di Masa Depan
Saat ini, jumlah politeknik di Indonesia hanya ada 5,4 persen dari jumlah total peguruan tinggi di Indonesia. “Sementara data BPS menyebutkan, bahwa lulusan universitas yang menganggur justru bertambah 10 persen, sedangkan lulusan pendidikan tinggi vokasi berkurang 30 persen,” imbuhnya.
Pendidikan vokasi ini diyakini dapat meningkatkan daya saing masyarakat indonesia di dalam dunia kerja. Jika pendidikan di universitas melahirkan akademisi berijazah, maka pendidikan vokasi melahirkan tenaga terampil bersertifikat yang sudah tentu juga memiliki ijazah.
“Pendidikan vokasi seperti politeknik tidak hanya memberikan ijazah, karena ijazah kurang laku untuk digunakan melamar pekerjaan di industri, (sedangkan) yang laku adalah sertifikat kompetensi yang dikeluarkan dari lembaga kredibel,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News