Sekjen Kemendikbud, Ainun Na'im. Foto: YouTube
Sekjen Kemendikbud, Ainun Na'im. Foto: YouTube

Sumpah Pemuda

4.800 Pelajar Napak Tilas Virtual Lewat Tiga Museum

Pendidikan museum Pendidikan Karakter
Citra Larasati • 01 November 2020 16:38
Jakarta: Peminat acara Tapak Tilas virtual yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam rangkaian hari Sumpah Pemuda 2020 membludak.  Pada awalnya dibatasi hanya 4.000 peserta, namun kapasitas ditambah mengingat tingginya animo peserta yang berasal dari kalangan siswa dan mahasiswa.
 
Kepala Pusat Pendidikan Karakter (Puspeka), Kemendikbud, Hendarman mengungkapkan, bahwa pada awalnya peserta dibatasi sebanyak 4000.  Namun melihat animo yang cukup besar, kapasitas peserta ditambah sehingga tercatat sekitar 4800 peserta pelajar maupun mahasiswa yang mengikuti mengikuti acara ini. 
 
“Meskipun pelaksanaan acara di hari Sabtu, ketika adik-adik, teman-teman sekalian seharusnya berlibur bersama keluarga, namun dengan penuh semangat mengikuti acara," kata Hendarman ketika menyampaikan laporan kegiatan secara virtual, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tapak Tilas Virtual tersebut dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Ainun Na`im. Ainun pun mengapresiasi terselenggaranya acara ini.  "Melalui acara ini, meskipun di dalam suasana pandemi tidak menjadi penghalang untuk kita terus belajar serta sekiranya dapat mendorong masyarakat untuk dapat mengunjungi museum,” ucap Ainun 
 
Hendarman menjelaskan, rangkaian acara diisi oleh para narasumber yang luar biasa, dan para peserta diajak mengunjungi tiga museum secara virtual yaitu Museum Kebangkitan Nasional, Museum Sumpah Pemuda, dan Museum Naskah Perumusan Proklamasi. Adapun kunjungan didampingi oleh edukator museum yang berbeda.
 
Di akhir acara, para peserta diharapkan dapat membuat laporan akhir bertemakan “Sumpah Pemuda” berdasarkan  hasil keikutsertaannya dalam acara ini. 
 
Sejarawan sekaligus pendiri Komunitas Historia, Asep Kambali sebagai narasumber pertama, memulai acara dengan menampilkan paparan bertajuk ‘Memahami Semangat Sumpah Pemuda’. Asep mengajak para peserta untuk memahami perjuangan para pemuda masa dulu terutama dengan berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang menjadi tonggak awal bersatunya para pemuda Indonesia tanpa mengindahkan aspek kedaerahan masing-masing.
 
Setelah itu, para peserta diajak untuk melakukan tur virtual ke Museum Kebangkitan Nasional dengan dipandu oleh edukator museum, Swa Adinegoro. Museum ini sebelumnya pernah menjadi tempat kuliah jurusan kedokteran yang bernama STOVIA. 
 
Para peserta dapat melihat beragam ruangan di dalam museum, seperti contohnya ruangan kelas mahasiswa STOVIA, ruang asrama mahasiswa dan ruang kebangkitan pendidikan. 
 
Swa Adinegoro menyampaikan bahwa Marie Thomas adalah dokter perempuan pertama yang menjadi lulusan STOVIA pada tahun 1922. “Kami merencanakan untuk mengadakan pameran khusus mengenai Marie Thomas yang akan dirilis pada tanggal 10 November mendatang”, ucapnya.
 
Selepas pemaparan dari narasumber pertama, moderator mengajak para peserta berpartisipasi aktif mengikuti kuis melalui platform Slido. Para peserta diuji wawasannya mengenai ruang yang ada di Museum Kebangkitan Nasional. 
 
Adapun kuis dibagi berdasarkan tiap jenjang sekolah dan perguruan tinggi.  Sesi pemaparan narasumber kedua dibawakan oleh Kepala Balai Bahasa Sumatra Utara, Maryanto. 
 
Dengan metode interaktif Maryanto menyatakan, bahwa bahasa daerah kita memang beragam, tapi semuanya satu hati untuk merdeka. Itu menyatukan karakter kita sebagai bangsa Indonesia.
 
“Tanpa bahasa persatuan, kita sebagai bangsa akan mudah dipecah belah. Kemerdekaan bangsa kita akan tercapai dengan persatuan anak Indonesia yang salah satunya terikat oleh satu Bahasa Indonesia,” kata Maryanto mengutip Tabrani D.I., salah satu tokoh pemuda 1928. 
 
Seperti bunyi dari Tri Gatra Bahasa, “Kita harus mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing,” tegas Maryanto. 
 
Berikutnya, para peserta diajak mengunjungi Museum Sumpah Pemuda secara virtual bersama edukator Dwi Nurdadi. “Dulu, para pemuda mendirikan organisasi-organisasi pemuda seperti Jong Java dan Jong Sumatra. Saat itu, sifat organisasi masih kedaerahan. Kemudian pada saat Kongres Pemuda II tanggal 27 – 28 Oktober 2020, sifat perjuangan pemuda sudah tidak lagi keagamaan atau kedaerahan, tapi sudah satu suara ingin merdeka,” terang Dwi. 
 
“Selain aktif mendiskusikan politik, para pemuda juga tetap asyik beraktivitas kepemudaan, seperti kesenian, olahraga, dan kepanduan (sekarang pramuka),” katanya. 
 
Dalam penjelasannya, Dwi menceritakan bahwa teks awal lagu ‘Indonesia Raya’ karya WR Supratman awalnya berlirik ‘Indonesia Raya, mulia, mulia. “Sebab saat itu, kata ‘merdeka’ sangat tabu diucapkan. Pada 1944, kata ‘mulia’ diganti menjadi ‘merdeka’,” tambah Dwi. 
 
Setelah rangkaian tur virtual museum selesai, moderator mengajak peserta berpartisipasi aktif mengikuti kuis interaktif. Para siswa diuji pengetahuannya seputar Sumpah Pemuda. 
 
Dalam rangka menumbuhkembangkan apresiasi kaum muda terhadap sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, Pusat Penguatan Karakter (Puspeka), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan kegiatan dengan tema ‘Pemuda Hebat, Pemuda Berkarakter’.
 
Sebagai rangkaian dari Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, acara ini dilakukan secara dalam jaringan (daring) pada hari Sabtu, 31 Oktober 2020 dan disiarkan melalui kanal YouTube Puspeka Kemendikbud.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif