Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Siswi Bunuh Diri Diduga Depresi Belajar Daring, Kemendikbud Didesak Berbenah

Pendidikan bunuh diri Pembelajaran Daring Pendidikan Jarak Jauh
Ilham Pratama Putra • 19 Oktober 2020 10:34
Jakarta: Seorang siswi SMA di Gowa, Sulawesi Selatan, berinisial MI, bunuh diri dengan menggunakan racun. Siswi berusia 16 tahun tersebut diduga bunuh diri akibat depresi menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) daring.
 
Ketua Umum Jaringan Sekolah Digital Indonesia, Ramli Rahim menyatakan, kasus ini menunjukkan model PJJ harus diubah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menurut Ramli, kejadian ini menjadi peringatan keras untuk Kemendikbud agar segera berbenah.
 
"Stress yang dialami siswa akibat pembelajaran jarak jauh yang tidak memiliki standar khusus dan cenderung sangat memberatkan siswa dari sisi tugas-tugas dari guru telah mengakibatkan depresi terhadap siswa yang akhirnya dapat berujung pada kejadian bunuh diri seperti ini," kata Ramli kepada Medcom.id, Senin, 19 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, penugasan selama PJJ memang menjadi faktor utama yang membuat pelajar terbebani. Belum lagi, jumlah mata pelajaran yang banyak semakin membuat para pelajar tertekan.
 
"14 sampai 16 mata pelajaran tentu bukan sesuatu yang mudah apalagi dengan dukungan jaringan internet yang tidak memadai," terang dia.
 
Baca: Survei: Bantuan Kuota Internet Terkendala Sinyal Tak Stabil
 
Ramli meminta standar penugasan hingga model pembelajaran ini disederhanakan. Selama ini, menurutnya, Kemendikbud maupun Dinas Pendidikan terkesan membiarkan pelajar dibebani oleh PJJ yang berat.
 
"Hingga saat ini upaya penyederhanaan kurikulum tampaknya masih mengalami jalan buntu. (Mendikbud) Nadiem Makarim seolah tidak punya formulasi untuk menuntaskan masalah jumlah mata pelajaran yang sangat membebani anak didik ini," jelas Ramli.
 
Lebih lanjut, agar kejadian serupa tidak berulang, dia juga meminta kepala sekolah maupun guru konseling dapat memahami kondisi pelajar. Harus ada pertimbangan saat memberikan pembelajaran dan penugasan kepada peserta didik.
 
"Sehingga bisa menjadi standar bagi guru-guru di sekolah tersebut untuk memberikan penugasan kepada siswanya. Mempertimbangkan ketersediaan alat, internet di daerah, dan kemampuan ekonomi siswa," ujar Ramli.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif