“Orang mungkin merasa sudah terlindungi hanya dengan minum obat, padahal faktor kebersihan dan sanitasi jauh lebih penting,” kata Ketua Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Elsa Herdiana Murhandarwati, dikutip dari laman ugm.ac.id, Rabu, 17 September 2025
Elsa menyebut penggunaan obat cacing tanpa indikasi medis jelas dapat menimbulkan masalah baru. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan flora usus, memicu resistensi, serta menciptakan rasa aman semu.
Menurutnya, langkah pencegahan tetap harus mengutamakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta perbaikan sanitasi. Elsa mengatakan konsumsi obat cacing tetap memiliki peran penting dalam program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) yang dijalankan pemerintah.
Program ini menyasar anak-anak usia sekolah dengan pemberian obat rutin satu hingga dua kali setahun sesuai tingkat kasus di masing-masing wilayah. Upaya ini dirancang untuk memutus rantai penularan di kelompok paling rentan.
“Reinfeksi bisa terus terjadi kalau lingkungan dibiarkan tercemar,” ujar dia.
Orang dewasa juga memiliki risiko yang sama apabila tidak menerapkan kebiasaan hidup sehat. Aktivitas sederhana seperti makan tanpa mencuci tangan, mengonsumsi makanan kurang bersih, atau makan bahan mentah yang terkontaminasi, bisa menjadi pintu masuk infeksi.
| Baca juga: Gejala Cacingan Jangan Disepelekan, Bisa Berdampak pada Otak dan Pertumbuhan Anak |
Hal ini menunjukkan kecacingan tidak terbatas pada kelompok usia tertentu. “Kecacingan bisa menyerang siapa saja, bukan hanya anak-anak. Jadi perilaku hidup bersih dan sehat itu penting untuk semua usia,” tegs dia.
Elsa mengatakan dampak infeksi cacing tidak bisa dianggap sepele karena dapat mengganggu kesehatan secara serius. Infeksi berat dapat menyebabkan sakit perut, diare, bahkan keluarnya cacing dari mulut penderita.
Dalam kondisi tertentu, komplikasi yang lebih berat seperti sumbatan usus dan sepsis juga dapat terjadi. “Cacing bisa menurunkan nafsu makan anak dan menghambat pertumbuhan,” tutur Elsa.
Kecacingan juga berkontribusi terhadap masalah gizi buruk dan stunting. Cacing menyerap nutrisi dari tubuh inang dan mengganggu proses penyerapan makanan di usus.
Akibatnya, anak-anak yang terinfeksi tidak dapat tumbuh optimal. “Kondisi ini dapat berujung pada gizi buruk yang kronis dan berimplikasi pada kualitas hidup jangka panjang,” ujar dia.
Karena itu, edukasi masyarakat mengenai bahaya kecacingan dan cara pencegahannya sangat penting. Upaya kolektif menjadi kunci, mulai dari penerapan kebersihan individu hingga menjaga lingkungan sekitar agar tidak menjadi sumber penularan.
Langkah sederhana seperti mencuci tangan, memakai alas kaki, menggunakan jamban yang layak, dan mengelola sampah secara benar perlu digalakkan secara berkelanjutan. “Kecacingan adalah masalah komunitas, bukan hanya individu. Upaya pencegahannya harus kolektif, dimulai dari rumah hingga lingkungan,” ujar Elsa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News