Ilustrasi NFT. AFP
Ilustrasi NFT. AFP

Mengupas Tren NFT di Indonesia

Renatha Swasty • 25 Februari 2022 09:16
Jakarta: Beberapa waktu terakhir Non-Fungible Token atau NFT tengah gencar dibicarakan masyarakat Indonesia. NFT merupakan jenis token atau aset digital berbasis blockchain yang bersifat unik dan dapat dikoleksi maupun diperdagangkan, berbeda dengan bitcoin atau cryptocurrency yang bersifat fungible token, yang berfungsi sebagai alat pembayaran.
 
Dosen Senior Fakultas Ekonomi Bisnis sekaligus peneliti Research Center Digital Business Ecosystem Telkom University Herry Irawan menjelaskan NFT menjadi solusi untuk keamanan aset yang dimiliki, baik fisik maupun digital dengan sifat blockchain immutable and trustable. Hal ini memungkinkan penjualan aset digital seperti NFT menjadi lebih mudah dan aman.
 
Namun, NFT memiliki sisi negatif. Salah satunya, penggunaan karya digital milik orang lain dijual di marketplace NFT.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menuturkan regulasi khusus mengatur NFT di Indonesia belum ada. Namun, sudah ada beberapa peraturan berkaitan dengan hak cipta atau hak kekayaan intelektual atau HAKI.
 
Herry menuturkan dalam praktiknya penerapan peraturan ini masih banyak hambatan. Misalnya, kesulitan penerapan peraturan di satu negara untuk pelanggaran yang dilakukan warna negara lain.
 
Dia menyebut sejak munculnya Ghozali effect, tren NFT semakin populer di Indonesia dan mulai dilirik masyarakat sebagai salah satu alternatif investasi yang menguntungkan. Hal ini menjadikan blockchain (NFT) literacy meningkat cepat.
 
Herry mengatakan terdapat peluang yang sangat besar untuk kreator NFT menjual karya di NFT marketplace. Dia menyebut dari beberapa kasus penjualan NFT yang viral dan fenomenal, kata kuncinya ialah keunikan (rarity) dari karya NFT yang dibuat.
 
Keunikan ini bisa dalam bentuk keindahan karya, upaya untuk membuat, ide atau konsep yang ditawarkan, dan berbagai hal lain. Hal ini tentu akan menyesuaikan dengan pembeli karya NFT tersebut, apakah sebagai kolektor atau investor/spekulan.
 
“Dalam kasus Ghozali, foto selfie tidak dinilai dari sekadar selfie-nya. Tapi keunikan yang dimiliki oleh foto selfie Ghozali adalah ide dan investasi waktu untuk melakukan selfie tersebut, everyday selama lima tahun terakhir," kata Herry dikutip dari laman telkomuniversity.ac.id, Jumat, 25 Februari 2022.
 
Dia menjelaskan setiap swafoto Ghozali tidak dilihat dari sisi keindahan karya. Namun, keunikan berbeda serta kelangkaan antara satu foto dengan yang lainnya.
 
"Hal ini yang membuat foto tersebut menjadi mahal dan viral saat ini," kata dia.
 
Harry menyebut NFT dapat diciptakan menjadi berbagai produk seni, seperti lukisan, desain, musik, film, dan masih banyak bentuk lain yang dapat didigitalkan. Bisnis NFT memiliki peluang cukup besar, namun diperlukan kecermatan membaca pasar untuk menciptakan NFT potensial untuk dijual.
 
Herry mendorong generasi muda Indonesia terlibat dalam bisnis NFT dengan mengambil peranan. Antara lain sebagai pengembang marketplace NFT, kreator NFT, maupun pengelola NFT yang dimiliki orang lain (konsultan atau manajer).
 
Dia meneybut sebagai kreator NFT, tentunya kejelian menciptakan karya yang unik menjadi kunci kesuksesan aset NFT. Sementara itu, bagi investor NFT, kejelian menilai aset NFT mana yang nilainya berpeluang naik cepat menjadi salah satu kunci. Di samping kemampuan mengelola risiko terukur merupakan hal yang sangat penting.
 
“Dengan memanfaatkan teknologi NFT yang berbasis blockchain ini, setiap karya fisik, seperti lukisan, barang koleksi, dan lain-lain dapat dicatatkan dalam bentuk aset digital NFT. Hal ini dapat menambah nilai berupa pencatatan karya yang lebih permanen untuk menjamin originalitas dari karya tersebut," ujar dia.
 
Baca: Pakar Ekonomi Syariah UNAIR: NFT Boleh Diperjualbelikan, Ini Penjelasannya
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif