Tim pengembang BCare -
Tim pengembang BCare -

Keren Banget! Mahasiswa Unesa Buat Aplikasi Peduli Cyberbullying, Tembus Top 10 Kompetisi Uni Eropa

Renatha Swasty • 28 September 2022 09:58
Jakarta: Sebanyak empat mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggagas aplikasi peduli cyberbullying yang diberi nama Bcare (Bully Care). Aplikasi ini lahir dari tangan Freetual Team yang terdiri atas Nabila Arum Hidayati (PG-PAUD 2019), Sindi Olivia (PG-PAUD 2019), Mellinda Putri Berliana (Pendidikan Bahasa Inggris 2019) dan Abdul Aziz (Sistem Informasi 2019).
 
“Kasus bullying pada anak kian mengkhawatirkan. Nah, pas itu kita ada program MBKM ikut bootcamp kurang lebih enam bulan dan berpikir menggagas Bcare,” ujar Nabila dikutip dari laman unesa.ac.id, Rabu, 28 September 2022. 
 
Gagasan mereka kemudian diikutkan dalam kompetisi dan inovasi yang diselenggarakan European Union Social DigiThon Competition pada akhir 2021. Pada kompetisi yang mengusung tema “Melawan Cyberbullying terhadap Anak,” ini mereka berhasil menembus Top 10.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nabila menjelaskan Bcare merupakan aplikasi pencegahan cyberbullying yang bertujuan mencegah cyberbullying pada anak-anak. Dia memaparkan menurut survei UNICEF U-Report 2021 sekitar 45 persen dari 2.777 anak muda usia 14-24 tahun pernah mengalami cyberbullying.
 
Sedangkan, di Indonesia kasus cyberbullying atau perundungan dunia maya yang sering terjadi adalah penyebaran hoaks dan penipuan sebanyak 47 persen, ujaran kebencian 27 persen, dan diskriminasi 13 persen. Tentunya, kasus ini tidak bisa diremehkan dan harus segera mendapatkan solusi karena dampak yang ditimbulkan tidak main-main. Selain bisa menimbulkan trauma berkepanjangan, juga bisa berakhir pada kematian.
 
Sindi Olivia menyebtu Bcare digagas dalam bentuk dua fitur utama yaitu Viducate dan ITalk. Viducate merupakan fitur di mana user akan merasakan visualisasi (pengalaman) menjadi korban cyberbullying melalui video yang ditayangkan pada gadget dengan bantuan teknologi deepfake. Sebelum menggunakan fitur tersebut, user diminta memilih gender dan ketika memilih gender perempuan, terdapat pilihan hijab dan nonhijab. 
 
Hal itu disesuaikan dengan keberagaman di Indonesia. Setelah melihat tayangan tersebut, user diminta mengisi kuesioner berjudul “Self Reflection” agar mengetahui perasaannya setelah melihat tayangan tersebut.
 
“Ini untuk memberikan pengalaman batin kepada anak bagaimana sih perasaan ketika dibully sama teman-teman. Setelah memahaminya, diharapkan muncul kesadaran sehingga mereka mikir-mikir untuk melakukannya,” papar Sindi.
 
Mellinda Putri Berliana menjelaskan fitur kedua yaitu Italk. Ini merupakan fitur forum diskusi terkait cyberbullying. 
 
User dapat mencurahkan isi hati, saling bercerita, dan berdiskusi mengenai tindakan cyberbullying. Forum ini dibuat untuk memberikan tempat curhat kepada korban cyberbullying yang mungkin belum berani bercerita kepada orang lain terkait tindak cyberbullying yang dialami.
 
“Identitas user bersifat anonim begitu juga foto profil akunnya akan bergambar ikon buah-buahan. Hal ini untuk menjaga privasi masing-masing user,” papar dia.
 
Selain itu, tanggapan dari user lain terkait curhatan dari korban cyberbullying akan difilter oleh aplikasi. Sehingga, terbebas dari kata-kata yang tidak baik. 
 
“Karena, jangan sampai korban cyberbulllying ingin curhat pada fitur tersebut tetapi malah mendapat hujatan dari user lain,” tutur Mellinda.
 
Abdul Aziz menyebut fitur viducate dapat dikembangkan dengan menambahkan pilihan-pilihan video visualisasi cyberbullying yang lain. Ada beberapa video yang dapat dipilih agar bisa mempresentasikan tindakan cyberbullying yang sedang terjadi. Pengembangan fitur ini bertujuan agar pengguna lebih memahami macam-macam cyberbullying yang tengah terjadi di masa sekarang.
 
Aplikasi BCare ditujukan untuk anak usia 10-17 tahun karena pada usia tersebut mereka merupakan pengguna aktif media sosial yang masih labil dan rentan terhadap tindakan cyberbullying. Aplikasi ini masih dalam tahap prototype dan masih dalam tahap pengembangan.
 
“Kita harap ini cepat selesai karena masih pengembangan. Setelah rampung ini harapannya bisa digunakan masyarakat atau sekolah dalam mengurangi angka cyberbullying baik di sekolah maupun di lingkungan sosial atau keluarga,” harap Aziz.
 
Baca juga: Mahasiswa Unesa Raih Third Prize di Kompetisi Matematika Internasional 

 
(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif