ilustrasi PTM Terbatas. Foto: Medcom.id/Arga Sumantri
ilustrasi PTM Terbatas. Foto: Medcom.id/Arga Sumantri

Mendesak, Bangun Ekosistem Pendidikan yang Adaptif dan Tangguh

Pendidikan pendidikan Kebijakan pendidikan pandemi covid-19
Citra Larasati • 31 Oktober 2021 18:51
Jakarta:  Pandemi Covid-19 yang telah membawa dampak signifikan terhadap berbagai sektor, termasuk pendidikan.  Pandemi telah menunjukkan betapa pentingnya sebuah ekosistem pendidikan memiliki kemampuan beradaptasi serta ketangguhan yang tinggi.
 
“Sektor pendidikan adalah salah satu sektor yang paling terkena dampak negatif dari pandemi. Selama 18 bulan, sekolah dijalankan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk mencegah penyebaran virus. Tetapi terbukti bahwa dalam kasus mayoritas, PJJ kurang efektif sebagai pedagogi pembelajaran di Indonesia,” jelas peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Latasha Safira dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 31 Oktober 2021.
 
Berbagai organisasi telah melaporkan terjadinya learning loss, di mana siswa ‘kehilangan’ pengetahuan dan keterampilan akademik akibat PJJ ini.  Bahkan Bank Dunia memperkirakan bahwa siswa di Indonesia kehilangan sekitar 0,9 tahun pembelajaran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indonesia, ujar Latasha, harus membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan resilien terhadap tekanan serta gangguan. Meredanya penyebaran pandemi akhir-akhir ini, sebaiknya dimanfaatkan untuk mencoba memperbaiki semua kelemahan ekosistem pendidikan di Indonesia dalam memberikan pembelajaran, terutama jarak jauh.
 
Ia menyebutkan, contoh perlunya konektivitas internet yang merata di seluruh nusantara dan juga distribusi perangkat pendidikan terkait seperti laptop, pelatihan guru agar dapat membimbing siswa tanpa tatap muka dan pengembangan keterampilan dasar dan transferable.
 
“Banyak siswa yang tertinggal dalam pelajarannya karena mereka tidak dapat mengakses koneksi internet yang stabil atau perangkat yang dibutuhkan dalam PJJ. Sedangkan guru-guru juga kesulitan untuk mengadopsi pembelajaran berbasis teknologi karena mereka tidak memiliki keterampilan digital yang diperlukan,” tandasnya.
 
Baca juga:  Mendidik Anak Harus dengan Visi 20 Tahun Mendatang
 
Latasha juga menambahkan pentingnya pengembangan critical thinking, serta komunikasi dan keterampilan digital agar siswa mudah beradaptasi dan bisa tetap semangat belajar dari rumah.  Ia juga menekankan pentingnya kebijakan dan investasi untuk mendukung kesiapsiagaan sektor pendidikan dalam menyikapi perubahan mendadak.
 
Kemitraan pemerintah dan swasta akan dapat mengatasi berbagai kelemahan ekosistem pendidikan.  Termasuk dalam mempersempit digital divide serta dalam mendukung sekolah dalam menerapkan langkah-langkah persiapan dan mitigasi.
 
Kurikulum sekolah di setiap tingkat harus memfasilitasi perkembangan keterampilan dasar dan transferable bagi siswa, serta bersifat adaptif, mampu menerapkan pembelajaran, baik secara tatap muka maupun jarak jauh, dengan efektif..  Juga dibutuhkan upaya terstruktur untuk memastikan guru-guru terbekali dengan keterampilan pedagogi berbasis digital.
 
Tidak kalah penting adalah perlunya sekolah meningkatkan engagement dengan orang-tua, agar mereka juga siap untuk membimbing anak-anaknya sebagai guru kedua di rumah. Tidak semua orang tua siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi.
 
Dengan ekosistem yang tangguh dan siap, waktu tidak akan terbuang untuk merombak dan mengatur logistik transisi metode pembelajaran ketika harus beralih ke PJJ atau sebaliknya.  Di bulan September, Kemendikbudristek mengizinkan sekolah-sekolah di daerah zona hijau untuk menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas, agar learning loss bisa dicegah. Namun harus diingat bahwa masih ada kemungkinan sektor pendidikan Indonesia harus kembali ke PJJ kelak.

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif