Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menegaskan, penggabungan ini merupakan upaya memperkuat pengembangan keilmuan, pendidikan, dan riset kesehatan yang terintegrasi. "Langkah ini sejalan dengan transformasi IPB sebagai universitas berbasis biosains dan agromaritim, serta penguatan paradigma one health," ujarnya.
Dekan FKGiz, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, menyoroti urgensi pendekatan baru. "Masalah seperti stunting, malnutrisi, dan penyakit metabolik tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan klinis. Integrasi kedokteran dan gizi adalah kunci untuk memperkuat sistem kesehatan nasional," jelasnya.
Fakultas ini mengusung pendekatan "hulu ke hilir", di mana faktor gizi, pangan, dan lingkungan menjadi bagian integral dari pencegahan dan penanganan penyakit. Kurikulumnya menerapkan model Longitudinal Integrated Clerkship (LIC) untuk pengalaman klinis yang berkesinambungan.
Sebagai bagian dari pengembangan, FKGiz juga membuka Program Studi Nutrisionis dan merencanakan rumah sakit pendidikan. Lulusan FKGiz dipersiapkan untuk berkarir di berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan primer, industri pangan, hingga lembaga riset, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Fakultas Kedokteran dan Gizi sekaligus menghadirkan model baru pendidikan kesehatan yang terintegrasi. Penetapan perubahan nama fakultas ini tertanggal 15 Januari 2026.
Alim menegaskan, langkah ini sejalan dengan arah transformasi IPB University sebagai universitas berbasis biosains dan agromaritim, sekaligus penguatan paradigma one health dan life-course approach. “Integrasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan ilmu kedokteran dan gizi yang terintegrasi, berbasis biosains tropika, serta berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat,” paparnya.
Menurut Ivan, IPB University memiliki modal akademik yang kuat untuk mengembangkan pendekatan tersebut. “IPB memiliki keunggulan historis di bidang pertanian, pangan, dan gizi. Karena itu, melalui FKGiz kami memposisikan pendidikan kedokteran dalam kerangka hulu ke hilir kesehatan,” kata Ivan.
Melalui pendekatan ini, ia melanjutkan, faktor gizi, pangan, lingkungan, dan perilaku tidak dipandang sebagai pelengkap, tetapi menjadi bagian integral dalam memahami penyakit dan upaya pencegahannya.
“Kami ingin lulusan FKGiz mampu melihat masalah kesehatan secara utuh, dari pencegahan hingga tata laksana klinis,” tambahnya.
Lebih jauh, FKGiz dirancang untuk menghasilkan dokter dengan pendekatan ilmu komunitas berbasis herbal yang kuat, serta pemahaman mendalam tentang gizi dan sistem pangan. Integrasi ini juga memperkuat penerapan model Longitudinal Integrated Clerkship (LIC).
“Model ini memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman klinik yang berkesinambungan dan kontekstual, sekaligus mendorong penguatan riset translasional dan efisiensi akademik,” jelas Ivan.
Buka Program Studi Nutrisionis
Sebagai bagian dari pengembangan fakultas, IPB University juga membuka Program Studi Nutrisionis pada tahun ini. Program ini hadir untuk menjawab kesenjangan antara kebutuhan layanan gizi berkualitas dengan ketersediaan tenaga nutrisionis yang terstandar.“Kolaborasi antara dokter dan nutrisionis sejak masa pendidikan sangat penting untuk membangun layanan kesehatan yang holistik, efektif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk mendukung proses pendidikan dan praktik klinik, IPB University juga merencanakan pengembangan rumah sakit pendidikan. Fasilitas ini akan menjadi wahana pembelajaran interprofesional sekaligus pusat riset dan layanan kesehatan promotif dan preventif. “Rumah sakit pendidikan IPB dirancang sebagai ruang kolaborasi nyata antara dokter dan nutrisionis,” ungkapnya.
Dari sisi prospek kerja, lulusan FKGiz memiliki peluang luas di layanan kesehatan primer dan rujukan, program kesehatan masyarakat, industri pangan dan nutrisi, pemerintahan, hingga lembaga riset nasional dan internasional.
“Kami optimistis FKGiz akan melahirkan sumber daya manusia kesehatan yang berkontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia,” tutup Ivan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News