Jakarta: Rekam jejak gemilang SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) selama lebih dari tujuh dekade kini resmi diabadikan dalam bentuk literatur sejarah. Mengusung tajuk "MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih", buku ini hadir sebagai kapsul waktu yang merawat ingatan kolektif tentang sumbangsih nyata salah satu institusi pendidikan Muhammadiyah paling bersejarah di Yogyakarta.
Karya epik setebal 418 halaman ini lahir dari kolaborasi solid antara Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI), pihak sekolah, dan penerbit LaksBang Akademika. Diluncurkan pada peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium UMY, Bantul, Rabu, 23 September 2026, buku ini merangkum rentetan kisah inspiratif dari bangku sekolah dasar hingga ke panggung nasional.
Ketua Umum IKAMUHI, Ida Pujiastuti, yang juga merupakan alumni angkatan 1984, menegaskan bahwa proyek literasi ini merupakan wahana refleksi atas perjuangan panjang ekosistem MUHI.
“Melalui lembaran buku ini, kita diajak untuk tidak melupakan akar sejarah dan perjuangan para pendiri serta guru-guru kita terdahulu. Buku ini juga merangkum kisah inspiratif dari beberapa alumni yang telah menorehkan prestasi di berbagai bidang. Ini menjadi bukti nyata bahwa bangku-bangku kelas MUHI berhasil menempa generasi yang unggul dan berdampak bagi masyarakat bangsa dan negara,” tutur Ida dalam keterangannya, dikutip Selasa, 29 September 2026.
Di balik kekayaan narasinya, ada kerja keras tim penulis yang diisi oleh empat jurnalis tangguh: Fernan Rahadi (Republika/Alumni 2003), Arif Koes Hernawan (eks Gatra), Latief Noor Rochmans (Kedaulatan Rakyat), dan Rahajeng Kartika Anindita Pramesi (Beritajatim). Selama lebih dari tiga bulan, mereka membedah arsip dan mewawancarai lebih dari 120 narasumber lintas generasi.
Ketua Tim Penulis, Fernan Rahadi, membeberkan dinamika intens selama proses penggalian data. "Namun tidak semuanya berjalan mulus, ada nomor telepon yang tak dapat dihubungi, narasumber yang tak bisa ditemui, hingga alumni yang enggan diwawancarai dan dipublikasikan. Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak," jelas dia.
Cakupan sumber buku ini sangat masif, merentang selama enam dekade dari angkatan 1963 hingga 2025. Siti Hadiroh (lulusan 1963) tercatat sebagai narasumber tertua, yang berpulang tepat saat proses penyusunan buku ini berlangsung.
Tim penyusun memastikan kurasi alumni didasarkan pada rekam jejak kontribusi nyata mereka di masyarakat. Deretan nama besar yang turut menghiasi buku ini menjadi bukti konkret keberhasilan MUHI dalam mencetak tokoh bangsa. Mulai dari budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), musisi legendaris Ebiet G Ade, gitaris Eross Sheila on 7, sutradara Fajar Nugros, Rektor UII Fathul Wahid, hingga Bupati Ngawi Ony Harsono.
Menanggapi peluncuran buku monumental ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan apresiasi tinggi terhadap visi pelestarian sejarah yang diusung. "Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan," kata Haedar Nashir.
Lebih dari sekadar memori masa lalu, buku ini diproyeksikan sebagai kompas untuk masa depan. Kepala Sekolah MUHI, Herynugroho, berharap karya ini menjadi pemantik semangat juang generasi penerus. Pandangan serupa diutarakan oleh Busyro Muqoddas, Ketua KPK RI periode 2010-2011 sekaligus alumni angkatan 1971, yang melihat sejarah panjang ini sebagai bekal krusial bagi Generasi Z dalam menghadapi disrupsi sosial.
Melalui gagasan MUHI Reborn, sekolah ini didorong untuk terus konsisten pada khitahnya: melahirkan generasi pembelajar abadi dan pemimpin masa depan yang tidak hanya tajam secara intelektual, namun juga kokoh dalam kemuliaan akhlak. Kehadiran buku "MUHI untuk Negeri" membuktikan bahwa warisan terbaik sebuah sekolah bukanlah bangunannya, melainkan karakter dan karya nyata para lulusannya.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan