“Jangan kebanyakan prodi. Pegal ngurus akreditasi,” kata Brian dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Badung, Bali dikutip Senin, 5 Oktober 2026.
Bria mendorong perguruan tinggi mempertimbangkan penggabungan sejumlah prodi, dibanding terus menambah prodi. Menurut dia, langkah tersebut dapat mengurangi beban administrasi tanpa harus mengurangi jumlah mahasiswa.
“Kalau perlu digabung-gabung aja, dimerger. Yang penting jumlah mahasiswa tidak berkurang,” tegas dia.
Brian memberikan ilustrasi lima prodi yang masing-masing memiliki 100 mahasiswa dapat digabung menjadi satu prodi dengan total 500 mahasiswa. Dengan begitu, perguruan tinggi tidak perlu mengurus akreditasi terpisah untuk setiap prodi.
“Administrasi mudah, akreditasi yang tadinya lima kali setiap lima tahun tinggal satu kali, manajemennya juga enggak banyak,” jelas dia.
Brian mengingatkan saat ini yang terpenting bukan memperbanyak nama prodi demi memperluas keilmuan. Melainkan mengembangkan keilmuan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Ilustrasi. Dok Medcom
Dia mencontohkan perkembangan bidang teknik kini semakin terpecah menjadi banyak prodi, mulai dari Teknik Telekomunikasi, Teknik Biomedik, Teknik Informatika hingga bidang baru seperti Teknik AI. Penyekatan tersebut justru dapat mempersempit ruang gerak lulusan ketika memasuki dunia kerja.
“Dulu saya ingat Teknik Elektro, satu aja kan dulu? Sekarang ada Teknik Telekomunikasi, Teknik Biomedik, Teknik Informatika, dan seterusnya,” kata dia.
Brian menilai pendidikan sarjana tidak perlu terlalu sempit karena bidang keilmuan pada dasarnya memiliki cakupan luas. “Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya. Prodi itu hanya administrasi, jangan kita mempersempit keilmuan dengan sekat administrasi,” tegas dia.
Dia berharap perguruan tinggi mulai mengevaluasi struktur prodi. Tujuannya agar pendidikan tinggi lebih berorientasi pada kemampuan lulusan dan dampak yang dihasilkan.
“Outcome kita jelas: apa lulusan kita, bagaimana dampak kepada masyarakat, apa persoalan daerah yang bisa diselesaikan,” tutur Brian.