Ilustrasi peneliti perempuan. DOK Unair
Ilustrasi peneliti perempuan. DOK Unair

Perempuan Indonesia Mesti Didorong Berkiprah di Bidang Sains dan Teknologi

Pendidikan Hari Kartini Perempuan BRIN Peneliti indonesia
Renatha Swasty • 21 April 2022 09:08
Jakarta: Perjuangan RA Kartini memberikan kesempatan kepada perempuan Indonesia untuk berperan aktif dalam setiap sendi kehidupan. Salah satunya di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).  
 
Periset Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eniya Listiani Dewi, menilai perempuan perlu lebih didorong berkarier di bidang STEM. Yakni dengan mendapat dukungan dari lingkungan dan keluarga.
 
“Perlu adanya pemahaman pihak laki-laki untuk men-support wanita, kami istilahkan male-champion, yang dengan pemikiran terbuka, sehingga membuka jalan bagi perempuan untuk dapat berkarier di berbagai bidang,” kata Eniya dikutip dari laman brin.go.id, Kamis, 21 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Eniya menyayangkan masih sedikit perempuan yang berkarier di bidang STEM. Dia menuturkan 55 persen lulusan sarjana di seluruh Indonesia adalah perempuan, namun yang terjun ke dunia kerja hanya 38 persen.
 
“Kalau khusus di BRIN, jumlah pegawai perempuan 35 persen, yang berkarier di STEM sendiri mungkin sekitar 25 persen,” tutur Eniya.
 
Dia mendorong perempuan dapat diberikan kesempatan sebagai pemegang keputusan. Khususnya dalam kebijakan riset dan inovasi, serta dorongan pendidikan melalui pemberian beasiswa.
 
“Kemudian di dalam kelompok–kelompok riset di BRIN saat ini, kita perlu dorong perempuan menjadi leader dari kelompok riset itu, sehingga bisa menimbulkan suatu role model,” ujar Eniya.
 
Periset yang bergelut dalam penelitian sel bahan bakar (fuel cell) ini berbagi tips perlunya fokus dan konsistensi menekuni suatu bidang. Eniya mengaku tertarik dengan bidang STEM sejak kecil.
 
Dia mendapat dorongan dari keluarga. Terutama, sosok ibu yang berpesan perempuan harus mandiri.
 
“Gaung bahwa Indonesia punya banyak potensi energi baru terbarukan di tahun 80-an ketika saya kecil, menurut saya itu menarik. Jadi, memang ada passion di bidang itu, serta nasihat dari kolega bahwa kita harus profesional yang juga mendorong saya konsisten di bidang energi,” tutur dia.
 
Peraih Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) 2018 ini bergelut dalam penelitian teknologi fuel cell dengan konsep mirip baterai (energy storage). Teknologi ini mengubah gas hidrogen dan oksigen dari udara secara elektrokimia menjadi listrik. Se
 
Selain tanpa proses pembakaran, limbah yang dihasilkan berupa air yang bahkan dapat langsung diminum. Sehingga teknologi ini dinilai ramah lingkungan.
 
Pemerintah telah mematok target penggunaan energi baru terbarukan sebesar 23 persen di 2025. Namun, hingga 2021 target tersebut baru tercapai 13,7 persen.
 
Sementara itu, Indonesia menargetkan mencapai karbon netral (Net Zero Emission/ NZE) di 2060. MEniya menyebut konsep pemakaian teknologi hidrogen adalah jawaban penurunan emisi.
 
“Dalam skenario NZE ini, diketahui pemanfaatan hidrogen, juga menggunakan fuel cell dan elektrolisa, adalah sebesar 328 megawatt pada 2031, 5 tahun berikutnya bertambah menjadi 332 megawatt di 2036. Kemudian naik 27 kali lipat sebesar 9 gigawatt di 2041, dan naik kembali 6 kali lipat sebanyak 52 gigawatt di 2051. Kita harapkan hidrogen biru dan hijau dapat diproduksi di indonesia, ” ujar Eniya.
 
Baca: Moorissa Tjokro, Kartini Muda Indonesia Pengembang Inovasi Mobil Autopilot
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif