Ilustrasi. Medcom
Ilustrasi. Medcom

Sejarah Konflik Libya, Perlawanan Rakyat atas Pimpinan Otoriter

Medcom • 20 Mei 2022 20:11
Jakarta: Sejumlah negara memiliki sejarah kelam dalam genggaman pemimpin otoriter. Sebut saja, Indonesia, yang pernah dipimpin oleh Presiden Soeharto selama 32 tahun berturut-turut.
 
Beralih ke Afrika Utara, Libya menjadi negara yang pernah dikuasai pemimpin otoriter, yakni Muammar Khadafi. Dia menjabat sebagai kepala negara selama 42 tahun.
 
Khadafi semula sangat dihormati dan dicintai rakyatnya lantaran berhasil menggulingkan pemimpin sebelumnya yang juga otoriter, Raja Idris I. Di bawah kepemimpinannya, Libya berhasil menjadi negara yang lebih maju.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kilang minyak yang dulunya dieksploitasi negara asing, berhasil dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh Khadafi. Pendapatan negara melambung tinggi, hingga berbagai infrastruktur pun mulai dibangun.
 
Namun, kepemimpinan Khadafi lambat laun ditentang rakyatnya sendiri. Dia diminta mundur dari jabatannya, bahkan Amerika Serikat sampai ikut turun tangan mencampuri permasalahan ini.
 
Lantas, sebenarnya apa yang membuat rakyat Libya berbalik melawan Khadafi? Dikutip dari Zenius, berikut pembahasan kronologi konflik Libya:

Sosok Muammar Khadafi, penyebab di balik Konflik Libya

Muammar Khadafi menguasai Libya sejak 1961 sampai 2011. Jabatannya itu dia peroleh usai mengkudeta Raja Idris I, pemimpin sebelumnya yang juga dinilai otoriter. 
 
Tak butuh waktu lama untuk menggulingkan kekuasaan Raja Idris I. Hanya dalam waktu dua jam, dia berhasil dimakzulkan dari jabatannya. Khadafi pun didapuk menjadi pengganti Raja Idris I.
 
Mengusung misi demokratis, Khadafi dielu-elukan sebagai sosok pemimpin yang ideal. Memang benar, sosok di balik Konflik Libya itu berhasil membawa banyak perubahan di awal pemerintahannya. 
 
Sistem pemerintahan Libya diganti menjadi Islamic Socialism yang dinamakan Third Universal Theory. Sistem ini menggabungkan Islam ortodoks, sosialisme revolusioner, dan nasionalisme Arab.
 
Dari segi ekonomi, Khadafi sukses memajukan industri minyak dan gas. Dia paham betul bagaimana cara memaksimalkan penghasilan negara dari sumber daya alam yang melimpah ruah itu.
 
Minyak dan gas milik Libya mulanya dieksploitasi perusahaan-perusahaan asing. Sampai harga pasar sekalipun juga diatur oleh negara asing. Alhasil, Libya merugi.
 
Pada masa pemerintahan Khadafi, dia menuntut perundingan ulang untuk menyesuaikan kembali kontrak-kontrak dengan perusahaan minyak asing. Dia mengancam bakal menutup produksi jika ada yang membantah keputusannya.
 
Berkat kebijakan ekonomi yang dibuat Khadafi, Libya menjadi negara yang lebih maju. Pendapatan negara meningkat, infrastruktur seperti sekolah dan rumah sakit dibangun di banyak tempat, hingga proyek mengaliri air dari utara Libya ke daerah-daerah gurun di Libya yang dinamakan “Great Man-Made River”.

Cikal bakal Konflik Libya

Kekayaan Libya yang tak ada habisnya itu justru menjadi pedang bermata dua. Khadafi mulai menyalahgunakan pendapatan negara yang melimpah ruah untuk tindakan di luar kepentingan negara.
 
Salah satunya, Khadafi mendanai gerakan kelompok separatisme di berbagai negara. Tak tanggung-tanggung, dia menyokong gerakan tersebut sampai memberikan pelatihan bagi tentaranya.
 
Tindakan ini dinilai oleh PBB sebagai terorisme. Organisasi internasional itu lantas mengecam aksi Khadafi dan menganggapnya bersalah atas insiden ledakan pesawat Pan Am 103 pada 21 Desember 1988.
 
Kejadian ini mencoreng nama Libya di kancah internasional. Alhasil, hubungan antara negara itu dengan negara lain pun mulai renggang.
 
Tak cuma dengan negara asing, hubungan antara Khadafi dengan rakyatnya sendiri juga memburuk. Dia mulai menunjukkan tanda-tanda penguasa otoriter.
 
Hilangnya kebebasan pers menjadi tanda utama pemerintahan Libya yang otoriter. Media tak boleh sembarangan menayangkan berita, sehingga segala sesuatunya harus di bawah kontrol pemerintah. Bukan hanya media, masyarakat Libya pun dilarang mengeluarkan pendapat yang tak sejalan dengan Khadafi.
 
Kesenjangan sosial juga mulai terlihat di tengah masyarakat. Padahal, Khadafi pernah berjanji untuk menghapus kelas sosial di awal masa pemerintahannya.
 
Ketimpangan antara ‘si kaya’ dan ‘si miskin’ ini rupanya dikarenakan praktik korupsi dan nepotisme. Harta negara berputar dan dinikmati keluarga Khadafi, sehingga berimbas pada negerinya yang mulai jatuh miskin.

Latar belakang Konflik Libya

Kendati melihat sendiri berbagai penyelewengan tumbuh subur di negaranya, warga Libya tak bisa melakukan apa-apa. Barulah ketika Revolusi Melati atau Arab Spring terjadi di Tanah Arab, mereka berani melawan pemerintahan Khadafi.
 
Pada 2011, rakyat Libya menyuarakan pendapatnya soal kepemimpinan Khadafi yang dinilai mulai tidak benar. Namun, kudeta kali ini tak semudah menggulingkan kekuasaan Raja Idris I.
 
Kalau dulu semua rakyat satu suara dan mendukung penurunan kepemimpinan Raja Idris I, kali ini suara rakyat terbagi menjadi dua. Golongan oposisi yang menentang Khadafi, dan golongan loyalis yang mendukung Khadafi.
 
Ya, Khadafi masih memiliki banyak pendukung meskipun tindakannya jauh dari kata ‘pemimpin ideal’. Hal ini dikarenakan mereka merasa ‘berutang budi’ pada Khadafi yang sudah membawa banyak kemajuan untuk Libya.
 
Beberapa pendukung yang termasuk golongan loyalis juga merupakan sosok yang diuntungkan dari nepotisme Khadafi. Meski begitu, kubu oposisi bisa dibilang lebih berkuasa lantaran mendapat banyak dukungan dari pihak luar, seperti Amerika Serikat, PBB, NATO, dan Prancis.
 
Keterlibatan AS membuat Khadafi tak punya pilihan selain menyerah dan turun dari jabatan. Namun, dia malah memilih sembunyi yang mengakibatkan konflik ini menjadi lebih panjang.

Terjadinya Konflik Libya

Konflik Revolusi Libya berlangsung selama kurang lebih sembilan bulan, yaitu dari Februari sampai Oktober 2011. Perlawanan ini bukannya tak berdasar, Konferensi London pada 29 Maret 2011 memutuskan Khadafi harus lengser dari jabatannya karena sudah kehilangan legitimasi atau kepercayaan dari rakyat.
 
Kelompok oposisi lantas membuat serangan pertama dengan meluncurkan 40 bom di bandar udara di Tripoli, salah satu kota besar yang dikuasai pendukung Khadafi. Operasi ini bernama Operation Odyssey Down yang dipimpin oleh Prancis dan Inggris. 
 
Kemudian, serangan bom kedua terjadi di pusat pertahanan Khadafi, yaitu Bab Al-Aziziya. Serangan-serangan lain pun tak terelakkan, hingga kondisi Libya menjadi semakin buruk.
 
Salah satu pertempuran yang paling sengit terjadi di Brega. Wilayah ini merupakan pusat minyak Libya. Tak ayal, kedua kubu ini mati-matian berusaha menguasai Brega.
 
Pusat minyak Libya itu akhirnya dikuasai golongan loyalis. Tak cuma Brega, pendukung Khadafi juga menguasai wilayah Tripoli, Sabharata, Ras Lanuf, Gharyam, Sirte, Misrata, dan Bani Walid. Sedangkan, golongan oposisi menguasai daerah Nalut, Ajdabiya, Zuara, Benghazi, Tobruk, dan Sarir. 

Penangkapan Khadafi

Meski mulanya menguasai lebih banyak wilayah, golongan loyalis perlahan-lahan berhasil dikalahkan kubu oposisi. Sampai puncaknya pada 21 Agustus, kubu oposisi sukses merebut kekuasaan Tripoli sepenuhnya yang merupakan basis pertahanan Khadafi.
 
Kala itu, Mahkamah Kriminal Internasional ikut mengeluarkan perintah penangkapan Khadafi. Artinya, pemimpin otoriter itu menjadi buron internasional.
 
Pada 2 Oktober, terdengar kabar bahwa Khadafi bersembunyi di Sirte. Perang pun pecah di kota asal Khadafi itu. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 20 Oktober, Khadafi ditemukan dan ditembak hingga tewas.
 
Tewasnya Khadafi menjadi akhir dari masa kepemimpinannya. Namun, Konflik Libya tak berhenti sampai di situ. Perang saudara ini masih berlanjut sampai 2020, hingga akhirnya PBB memediasi gencatan senjata antara kedua kubu. (Nurisma Rahmatika)
 
Baca: Sejarah Penyerbuan Bastille, Awal Revolusi Prancis 1789
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif