Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, MI/Susanto.
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, MI/Susanto.

Menag Sebut Penelitian Sebagai Jihad

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Fachri Audhia Hafiez • 27 Maret 2019 13:28
Serpong: Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengajak para peneliti dan dosen untuk mengedepankan penelitian yang relevan dan seirama kekinian. Penelitian dan publikasi ilmiah dinilai berdampak besar bagi masyarakat.
 
"Penelitian adalah jihad untuk sungguh-sungguh menemukan hal baru sesuai kontek kekinian, sementara publikasi ilmiah adalah bentuk dakwah dalam bentuk khidmat kepada masyarakat," kata Lukman saat membuka Annual Conference Research Proposal (ACRP) 2019 di Serpong, dalam keterangan pers di Jakarta Rabu, 27 Maret 2019.
 
Lukman menjelaskan, dengan melakukan penelitian, Peraturan Kementerian Agama (PMA) tentang tata cara pemilihan rektor, UU Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965, UU Perkawinan dan regulasi lain, mungkin tidak relevan lagi dengan kondisi kekinian. "Hal ini perlu kajian penelitian mendalam dan sangat ditunggu oleh masyarakat," ujar dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lukman menambahkan, penelitian yang dilakukan tidak semata memperkaya tema penelitian. Namun, bisa diaplikasikan dalam membangun sistem kehidupan, regulasi dan tataran kehidupan bersama.
 
"Sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," tegas Lukman.
 
Baca:UM Anggarkan Rp25 Miliar untuk Riset
 
ACRP 2019 mengusung tema 'Meningkatkan Kinerja Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Melalui Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian Kepada Masyarakat'. Acara dibuka dengan ditandai pemukulan gong oleh Lukman didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamarudin Amin dan Direktur Diktis Arskal Salim.
 
Gelaran para peneliti yang diinisiasi Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam ini diperuntukkan bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) negeri dan swasta di Indonesia. Lukman menyatakan, ACRP tidak sekadar upaya Kemenag dalam memfasilitasi para peneliti dan dosen.
 
Lebih dari itu, ACRP untuk lebih memberikan sumbangsih bagi dunia karena Indonesia dinilai merupakan laboratorium yang sangat istimewa. "Dunia melihat Indonesia sebagai negara yang luar biasa kaya akan khazanah keilmuan karena nilai agama bisa secara baik terintegrasi dalam kehidupan keseharian," ucap Lukman.
 
ACRP tahun 2019 merupakan event kali kedua setelah sukses pada 2018 dan dihadiri ratusan peneliti. Dari 2.314 Proposal yang masuk tim reviewer ACRP 2019 berhasil menyaring dan menetapkan 566 nomine penerima bantuan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.
 
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamarudin Amin dalam laporannya mengatakan, pada tahun anggaran 2018, pihaknya telah memfasilitasi setidaknya 764 proposal penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat dengan dukungan pendanaan mencapai Rp39,4 miliar rupiah.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif