Rektor IPB Prof Arif Satria.  Foto: Dok. Pribadi
Rektor IPB Prof Arif Satria. Foto: Dok. Pribadi

Peringkat Satu, IPB Ungguli University of Goettingen Jerman

Pendidikan Pendidikan Tinggi Peringkat Perguruan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 13 Februari 2020 16:08
Jakarta: Institut Pertanian Bogor (IPB) menempati peringkat pertama dunia, dengan jumlah terbanyak artikel ilmiah internasional bertema penelitian sawit yang terindeks di pangkalan data bereputasi. Hasil tersebut berdasarkan Analisis Elsevier Research Intelligent, Singapore (2020) tentang Evidence-Based Policy Making for Indonesia.
 
Tercatat IPB memiliki artikel ilmiah tentang sawit sebanyak 69 artikel ilmiah. Capaian tersebut mengungguli University of Goettingen (UGOE) Jerman yang hanya memiliki 42 artikel.
 
Rektor IPB, Arif Satria merespons capaian tersebut. Ia menyampaikan akan terus mendorong upaya peningkatan kualitas riset sawit di Indonesia melalui pendekatan interdisiplin maupun transdisiplin, sehingga dampaknya dirasakan penerima manfaat secara berkelanjutan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arif mengatakan, secara khusus telah menjalin kerja sama dengan University of Goettingen (Jerman) dan CIFOR melalui berbagai proyek kerja sama riset seperti OPAL, GCRF-Trade Hub, CRC990-EFForTS dan lainnya. Kapasitas yang terbangun melalui kerja sama riset tersebut di antaranya adalah terbentuknya pool of experts, meluasnya jaringan internasional, infrastruktur riset lapang, modul training ataupun kuliah, dan produk inovatif.
 
Sementara untuk sumber pendanaan dalam negeri dapat berasal dari Kemenristek-BRIN, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa sawit, perusahaan swasta serta sumber lainnya juga berkontribusi penting dalam mendorong produktivitas riset sawit di IPB University.
 
Arif menambahakan, bahwa integrasi hulu hilir sawit berbasis riset sangat penting dilakukan untuk menjamin keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia yang merupakan penyumbang devisa signifikan.“Melalui kerja sama dengan Cargill, IPB University membangun teaching farm kelapa sawit yang sudah berproduksi di Jonggol, Jawa Barat dan menjadi tempat pembelajaran mahasiswa, serta tempat pelatihan berbagai pihak dalam hal Good Agricultural Practices (GAP),” kata Arif dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Kamis, 13 Februari 2020.
 
Saat ini, IPB juga tengah mendesain teknologi pemupukan pertanaman sawit presisi yang dikenal dengan PreciPalm. Dengan teknologi tersebut, penggunaan pupuk lebih efisien dari segi pengayaan biodiversitas dan produktivitas.
 
“IPB University bersama Universitas Jambi, Universitas Tadulako dan Universitas Goettingen membangun plot demo 'Biodiversity Enrichment Planting” sekitar 100 hektar di Jambi yang hingga kini masih terus diamati dinamikanya dan sudah dijadikan referensi untuk penelitian sejenis serta percobaan replanting design,” terangnya.
 
Tak sampai di situ, IPB juga fokus melakukan hilirisasi sawit. Salah satunya melalui inovasi produk surfaktan substitusi impor untuk mendukung teknologi EOR (enhanced oil recovery) sumur minyak tua.
 
Selain itu, melalui inovasi biomaterial, IPB University juga sudah memasarkan produk helm ramah lingkungan melalui perusahaan rintisan (startup) dari serat limbah tandan buah segar.
 
“IPB juga secara aktif bekerja sama dengan berbagai pihak melaksanakan program Summer course on sustainable palm oil (agribisnis) bagi peserta asing, pendampingan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan lain-lain,” tandasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif