Ketua Pengurus Yayasan Vihara Dharma Bakti, Gunawan Jayaputra saat sedang sembahyang di Klenteng Kim Tek Le, Medcom.id/Citra Larasati.
Ketua Pengurus Yayasan Vihara Dharma Bakti, Gunawan Jayaputra saat sedang sembahyang di Klenteng Kim Tek Le, Medcom.id/Citra Larasati.

Imlek, Tradisi Sungkeman Hingga Bagi-bagi Angpau

Pendidikan budaya imlek
Citra Larasati • 05 Februari 2019 13:22
Jakarta:Tradisi silaturahmi, sungkeman dan bermaaf-maafan ternyata tidak hanya dilakukan umat muslim saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Tradisi ini juga dilakukan masyarakat keturunan Tiongkok saat merayakan Tahun Baru Imlek.
 
Ketua Pengurus Yayasan Vihara Dharma Bakti, Gunawan Jayaputra saat ditemui di Klenteng Kim Tek Le, Jakarta Barat memaparkan, Imlek di Tiongkok sendiri pada dasarnya adalah perayaan untuk menyambut kedatangan musim semi. "Imlek murni tradisi orang Tionghoa, jadi bukan upacara keagaaman Budha. Karena Imlek bisa dirayakan semua agama, tidak identik dengan Umat Budha," papar Gunawan saat ditemui di Jakarta, Selasa, 5 Februari 2019.
 
Imlek identik dengan suka cita menyambut musim semi, di mana dalam sejarahnya, masyarakat Tionghoa di Tiongkok mulai memasuki masa bercocok tanam. "Karena selama musim dinginkantanaman hanya sedikit yang bisa hidup," imbuhnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Mengintip Semarak Imlek di Vihara Dharma Bhakti
 
Layaknya sebuah perayaan, Imlek juga menjadi momentum untuk berkumpulnya keluarga, dan kerabat dekat. "Ada maaf-maafan, ada sungkeman juga seperti lebaran, anak kepada orangtuanya, saudara kepada saudaranya yang lebih tua," terangnya.
 
Tentu saja, tradisi lain yang lekat dengan Imlek adalah bagi-bagi angpau. Tradisi memberi uang yang dimasukkan ke dalam amplop berwarna merah ini biasa dilakukan oleh orangtua kepada anaknya, atau orang yang sudah menikah kepada saudara dan kerabatnya yang belum menikah.
 
"Ini maknanya biar sepanjang tahun hoki (beruntung) terus, baik yang memberi angpau maupun diberi angpau," kata Gunawan.
 
Kegiatan membagikan uang juga dilakukan masyarakat Tionghoa saat berada di Klenteng di sela-sela waktu sembahyangnya. Meski tidak semua umat melakukannya, namun tidak sedikit umat Klenteng menyempatkan diri menemui warga yang mengantri di luar gerbang Klenteng untuk sekadar memberi uang kepada mereka.
 
Di Kim Tek Le yang terketak di Jalan Kemenangan III Petak Sembilan, Taman Sari Glodok, Jakarta Barat ini misalnya. Setiap datang Imlek, tak kurang dari 800-1.000 orang dari berbagai daerah mengantri di luar gerbang menunggu "angpau" pemberian umat. "Karena ada beberapa umat kami yang biasanya ingin langsung memberikan angpau kepada masyarakat yang hadir. Kami tempatkan antrian di luar, agar tidak mengganggu umat yang beribadah," tegasnya.
 
Gunawan mengimbau, agar tradisi memberi angpau ini tidak menjadi ajang untuk memamerkan kekayaan, melainkan melandasi tradisi ini murni karena ingin berbagi dengan sesama. "Di sisi lain, bagi yang sudah dapat angpau jangan antri lagi," tutup Gunawan melempar Canda.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif