Peserta Lokakarya LKLB berkunjung ke Gereja Protestan Indonesia Donggala. Foto: Institut Leimena
Peserta Lokakarya LKLB berkunjung ke Gereja Protestan Indonesia Donggala. Foto: Institut Leimena

Cegah Prasangka Warisan Konflik, Puluhan Guru di Sulteng Ikuti Pelatihan Toleransi Lintas Agama

Renatha Swasty • 21 September 2026 14:27
Ringkasnya gini..
  • UIN Datokarama dan Institut Leimena menggelar Lokakarya LKLB untuk mendorong guru tak mewarisi prasangka konflik masa lalu ke siswa.
  • Program LKLB membekali puluhan guru di Sulawesi Tengah melalui perjumpaan langsung dan dialog lintas agama di pura serta gereja.
  • Pendidikan agama kini diarahkan untuk membangun kecerdasan beragama, kepercayaan sosial, serta kolaborasi di tengah masyarakat majemuk.
Jakarta: Pengalaman konflik komunal di sejumlah wilayah Indonesia termasuk di Poso, Sulawesi Tengah sekitar 1998-2001 meninggalkan pelajaran mahal tentang rapuhnya kepercayaan sosial ketika identitas agama bertemu dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial, serta disinformasi. Pendidikan perlu diarahkan untuk membangun kompetensi generasi muda agar dapat hidup bahkan bekerja sama dalam masyarakat majemuk.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Lukman Thahir, menegaskan keberagaman tidak bisa hanya dijelaskan secara deskriptif 'kita berbeda'. Kenyataannya, orang-orang yang berbeda hidup dalam ruang sosial yang sama dan saling berhubungan satu sama lain.

“Keberagaman tidak dapat dikelola hanya dengan prinsip ‘Saya tidak mengganggu Anda, dan Anda jangan mengganggu saya.’ Itu penting, tetapi belum cukup. Masyarakat majemuk membutuhkan kemampuan lebih tinggi untuk berjumpa, memahami, membangun kepercayaan, dan bekerja sama melampaui batas identitas,” kata Lukman dalam Hybrid Upgrading Workshop (HUW) atau Lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan UIN Datokarama dan Institut Leimena, Minggu, 20 September 2026.

Lukman menuturkan Sulawesi Tengah tidak boleh hanya dibaca melalui sejarah konfliknya, tapi juga kemampuan masyarakatnya untuk pulih, berdialog, membangun kembali hubungan, dan menciptakan ruang kehidupan bersama. Di sinilah pendidikan khususnya pendidikan agama dan guru berperan strategis.

Dia mengingatkan guru berhadapan dengan manusia muda yang sedang membangun cara pandangnya terhadap diri sendiri, agamanya, orang lain, dan dunia. Itulah sebabnya, generasi sekarang yang duduk di sekolah tidak seharusnya mewarisi prasangka agama dari generasi sebelumnya, sebaliknya kebijaksanaan dari pengalaman akan kegagalan dan konflik di masa lalu.

“Pertanyaannya bagi kita sebagai pendidik, apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita: ingatan tentang siapa yang harus dicurigai, atau kemampuan untuk hidup bersama tanpa kehilangan identitas?” tanya Lukman.

Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Inayah Rohmaniyah, mengatakan LKLB adalah upaya untuk menanamkan kecerdasan beragama kepada masyarakat. Guru saat ini berhadapan dengan generasi muda yang mempunyai cara berbeda dalam beragama sehingga pendidikan agama tidak bisa lagi ditanamkan secara konservatif dan normatif.

Inayah menyebut Program LKLB tidak hanya diikuti guru agama, namun guru dari semua mata pelajaran. Para guru yang merupakan alumni pelatihan dasar LKLB tersebut mengikuti rangkaian sesi untuk menyusun rancangan pembelajaran, modul, atau program sekolah berbasiskan nilai-nilai LKLB.

“LKLB ini sebenarnya membantu kita untuk menanamkan keberagaman dengan cara anak muda, salah satunya dengan bertemu langsung orang lain yang berbeda agama. Anak muda suka sesuatu yang pragmatis dan bisa langsung dirasakan, tidak terlalu rumit, sehingga perjumpaan menjadi penting,” kata Inayah.
 

Guru LKLB 2
Peserta Lokakarya LKLB berkunjung ke Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha. Foto: Institut Leimena
 

Perjumpaan Lintas Agama

Peserta Lokakarya LKLB di Palu juga mendapatkan kesempatan berkunjung ke dua rumah ibadah yaitu Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha dan Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Pniel. Para guru diberikan waktu untuk berdialog dalam kelompok dengan pemuka agama atau pengurus rumah ibadah, dalam rangka memperkuat kompetensi komparatif LKLB untuk mengenal agama lain langsung dari penganutnya.

Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, menyebut Program LKLB yang telah dijalankan sejak tahun 2021 berupaya mendorong terciptanya ruang-ruang perjumpaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Saat ini, jumlah alumni Program LKLB Institut Leimena telah mencapai lebih dari 12.000 diantaranya 859 berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah.

“Kita mungkin mempunyai tradisi dialog lintas agama, tapi sebenarnya itu hanya menyentuh kalangan elitis, di tingkat pemuka atau tokoh agama mungkin tidak ada masalah, tapi di bawah belum tentu dan belum ada infrastruktur untuk membangun toleransi sampai ke masyarakat,” kata Daniel.

Salah satu peserta, Guru Akidah Akhlak MAN 1 Kota Palu, Supardi, mengatakan kunjungan ke pura dan gereja telah mengubah cara pandangnya terhadap penganut agama lain. Ia mengatakan perbedaan ternyata tidak bisa hanya dilihat dari luar atau permukaan saja, namun harus mengenal dan bercakap-cakap dengan mereka yang berbeda agama.

“Sebagai Muslim, saya baru menyadari ada tujuan yang sama di agama Islam dan Kristen, misalnya di Kristen ada persembahan untuk pelayanan diakonia atau pembangunan gereja, di Islam juga ada sedekah, zakat, dan infaq,” ujar Supardi.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sulawesi Tengah, I Wayan Sudiana, mengatakan umat Hindu sangat terbuka untuk menerima kunjungan lintas agama. Di Provinsi Sulteng sendiri, umat Hindu berjumlah 197.000 orang yang tersebar di 11 kabupaten/kota. 
Dalam sesi diskusi dengan guru-guru peserta Lokakarya LKLB, ia menjawab sejumlah pertanyaan, seperti alasan runtuhnya Kerajaan Hindu di Nusantara, ritual suci umat Hindu seperti melilit pohon besar dengan kain, aturan masuk pura, sesajen, dan lain-lain.

“Pura kami sangat terbuka namun ada etika-etika yang harus kita jaga misalnya tidak bisa masuk sembarangan ke tempat sembahyang karena penting untuk menjaga kesucian pura,” kata I Wayan Sudiana.

Ketua Majelis GPID Pniel, Roberthy D. Maelissa, mengaku bersyukur bisa mendapatkan kesempatan perjumpaan dengan guru-guru lintas agama. Ia mengatakan sebagai sesama umat ciptaan Tuhan, sekalipun berbeda, tetap ada ruang untuk bisa bergandengan tangan merawat bumi ciptaan Tuhan.

“Kita semua adalah umat ciptaan Tuhan, meskipun berbeda dalam keyakinan dan adat istiadat,” kata Roberthy, yang menutup perjumpaan di GPID Pniel Palu dengan mengajak peserta Lokakarya LKLB menyanyikan lagu lawas “Kemesraan”.

Lokakarya LKLB diadakan selama tiga hari pada 18-20 September 2026 diikuti oleh 40 guru dan wakil atau kepala sekolah lintas agama dari berbagai wilayah di Provinsi Sulsel seperti Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Mamuju Utara. Lokakarya ini juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulteng, Firmanza, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulteng, Junaidin. 
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan