Sebutan Bapak KKN disematkan padanya karena ia lama memimpin Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) di Kampus UGM. Setiap penerjunan tim mahasiswa KKN ke berbagai lokasi di Pulau Jawa atau di sekitar DIY dan Jateng, Gatot tidak segan-segan berkunjung dan berinteraksi dengan mahasiswa yang tengah mengabdi di desa.
Semasa hidupnya, Gatot Murdjito, dikenal sebagai seorang akademisi yang memiliki kontribusi pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Ia berperan aktif dalam pengelolaan program KKN serta pemberdayaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan UGM. Almarhum juga aktif mendampingi berbagai program pemberdayaan masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Misalnya pada 2011, Gatot Murdjito menjadi juri di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIV di Makassar, Sulawesi Selatan. Usai penghelatan Pimnas, para tim juri yang berasal dari kampus UGM diundang khusus oleh Bupati Toraja Utara, Frederik Batti Sorring, untuk bertandang ke rumahnya di Rantepao.
Menggunakan bus, rombongan menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam. Undangan tersebut sebenarnya ditujukan untuk Gatot, sebagai bentuk ungkapan terima kasih sang Bupati padanya. Di hadapan Gatot, Frederik mengenang kisahnya melaksanakan KKN saat jadi mahasiswa Filsafat UGM.
Frederik mengaku usai lulus dari UGM dan bekerja sebagai penyuluh KB di Asmat Papua, pengalamannya melaksanakan KKN sangat membantunya berinteraksi dengan masyarakat.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro,mengungkapkan Gatot Murdjito merupakan sosok dosen yang dikenal tegas dan disiplin, namun tetap penuh kebaikan dan ketulusan. Menurutnya, almarhum memiliki rasa kepedulian dan keikhlasan dalam membimbing, sehingga jejak pengabdiannya akan senantiasa berkesan bagi orang yang pernah belajar dan berinteraksi dengannya.
“Almarhum akan selalu dikenang atas dedikasi, keteladanan, dan pengabdiannya bagi dunia pendidikan dan masyarakat,” jelas dia.
Semasa hidup, Gatot dikenal sebagai pribadi hangat dalam memberikan dukungan kepada orang-orang sekitarnya. Menantu almarhum, Galih Sekarayu, mengatakan mertuanya memperlakukan dirinya layaknya anak kandung sendiri.
Almarhum sebagai sosok yang tidak pernah marah dan senantiasa memberi semangat, terutama dalam hal pekerjaan dan menjaga kesehatan. “Bapak selalu mengingatkan untuk semangat bekerja dan menjaga kesehatan. Pesan itu yang paling sering beliau sampaikan,” tutur dia.
Sebagai seorang pendidik, almarhum juga kerap memberikan nasihat yang membekas bagi keluarga. Salah satu pesan yang selalu diingat adalah prinsip bekerja yang diajarkan almarhum: menyenangi pekerjaan, menekuninya, dan menjalaninya secara profesional. Nilai tersebut menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan dan meniti karier.
Dedikasi almarhum dalam dunia pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat menjadi warisan nilai yang terus hidup di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Melalui perannya dalam pengabdian masyarakat, Gatot turut menanamkan kepekaan sosial, kepemimpinan, serta mendorong adanya semangat pengabdian. Keteladanan dan integritasnya akan senantiasa dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan pengabdian UGM.
Ir. Gatot Murdjito, M.S. lahir di Kutoarjo pada 27 September 1948. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada dengan meraih gelar Sarjana pada Fakultas Peternakan tahun 1978 dan gelar Magister pada Program Pascasarjana tahun 1989. Ia mulai mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil pada 1 Maret 1980 dan menyelesaikan masa tugasnya pada 1 Oktober 2013.
Banyak alumnus mengenang dedikasi Gatot selama menjadi pembimbing mahasiswa selama mengabdi di desa-desa terpenciAlmarhum dimakamkan Sabtu, 14 Februari 2026 pada pukul 10.00 WIB di TPU UGM di Sawitsari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News