Mendiktisaintek, Brian Yuliarto. Foto: Youtube Ganesha TV
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto. Foto: Youtube Ganesha TV

Indonesia Antre Naik Kelas Bareng 108 Negara, Peluangnya Sampai 2040

Ilham Pratama Putra • 05 Oktober 2026 13:10
Ringkasnya gini..
  • Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bonus demografi Indonesia hanya terbuka hingga sekitar tahun 2040.
  • Kegagalan mengoptimalkan SDM periode ini berisiko mewariskan beban ekonomi bagi generasi mendatang.
  • Peningkatan kualitas pendidikan serta riset menjadi kunci utama Indonesia menembus status negara berpendapatan tinggi.
Bali: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyebut Indonesia memiliki waktu terbatas untuk memanfaatkan bonus demografi. Ini sebagai momentum naik kelas bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. 

Menurut Brian, kesempatan tersebut hanya terbuka ketika jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan penduduk usia tidak produktif. Kondisi itu diperkirakan hanya berlangsung sampai sekitar 2040.

“Kesempatan naik kelas tadi yang kita ngantre bersama 108 negara itu bukannya setiap saat terbuka. Itu hanya terbuka ketika jumlah penduduk produktif kita lebih banyak dari penduduk yang usia tidak produktif. Itu hanya terbuka sampai 2040,” ujar Brian dalam pembukaan Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Badung, Bali dikutip Senin, 5 Oktober 2026.

Brian mengingatkan momentum tersebut tidak boleh disia-siakan. Jika Indonesia gagal memanfaatkan bonus demografi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan ekonomi, generasi berikutnya harus menunggu kesempatan serupa.

Dia menggambarkan risiko tersebut sebagai beban yang akan diwariskan kepada generasi mendatang. Karena itu, momentum saat ini menjadi sangat penting.

“Saya bayangkan kalau kita gagal nih, anak-anak, cucu kita nanti pasti bilang nanti, ‘Ini gara-gara angkatan tahun 2026-an, 2027-an, 2030 yang kerjanya enggak bener-bener sehingga kita miskin semua’,” kata dia.
   
Sebagai negara maju, pendapatan negara harus tinggi. Brian menyebut target Indonesia adalah sejajar dengan negara maju dan negara berpendapatan tinggi. 

Salah satu indikatornya adalah pendapatan sekitar US$15 ribu. Dia mengatakan perjalanan dari pendapatan US$5 ribu hingga US$12 ribu relatif lebih mudah. 

Namun, tantangan menjadi jauh lebih berat ketika negara ingin menembus kisaran US$15 ribu. “Begitu (US$) 12.000 ke (US$) 15.000, enggak ada yang bisa lewat kecuali 34 negara ini,” ujar Brian.

Brian mencontohkan Korea Selatan sebagai negara yang berhasil melakukan lompatan besar. Pendapatan per kapitanya meningkat dari sekitar US$1.200 pada 1960 menjadi US$33 ribu pada 2023.

"Dan salah satu kunci keberhasilan tersebut adalah pembangunan institusi pendidikan dan peningkatan riset dan pengembangan," tegas dia. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan