Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim. Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim. Medcom.id/Ilham Pratama Putra

Cegah Kepunahan, Bahasa Daerah Didorong Diajarkan Lewat Muatan Lokal di Sekolah

Renatha Swasty • 22 Februari 2022 16:59
Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus berupaya agar bahasa daerah di Indonesia tidak punah. Salah satunya melalui peluncuran program Revitalisasi Bahasa Daerah.
 
Salah satu strategi revitalisasi bahasa daerah ialah mendorong satuan pendidikan memuat pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal di jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah. Hal ini juga perlu didorong oleh kebijakan pemerintah daerah masing-masing.
 
"Kami berharap muatan lokal yang diwajibkan adalah pelajaran bahasa daerah. Tetapi, wilayah-wilayah yang tidak punya bahasa daerah dominan, maka muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Jadi, pilihannya benar-benar ada di masing-masing sekolah,” kata Mendikbudristek Nadiem Makarim dalam keterangan tertulis, Selasa, 22 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun provinsi, kabupaten, serta kota yang memiliki bahasa daerah dominan, seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Nadiem menegaskan wajib tidaknya bahasa daerah menjadi muatan lokal di sekolah tergantung kebijakan masing-masing pemerintah daerah.
 
"Kalau bukan kebebasan masing-masing daerah, berarti bukan Merdeka Belajar. Jadi tergantung,” kata Nadiem.
 
Dia menyebut hadirnya program Revitalisasi Bahasa Daerah makin menggugah sekolah bergerak mengembangkan pembelajaran bahasa daerah yang membangkitkan kreativitas peserta didik. Nadiem juga berharap sekolah-sekolah menggerakkan bahasa daerah bagi pelajar.
 
"Dan membuat jembatan lintas generasi, kembali pada identitas kita dan merayakan kebinekaan,” kata Nadiem.
 
Pendidik masyarakat adat dan aktivis sosial Butet Manurung mengakui bahasa ialah inti kebudayaan. Sebab, informasi dalam kebudayaan tidak bisa disampaikan dari generasi ke generasi dengan utuh bila tidak menggunakan bahasa daerah.
 
“Hilangnya bahasa daerah artinya hilangnya kepercayaan diri, identitas, dan kebanggaan diri, hilang juga pengetahuan tentang obat tradisional, menjaga lingkungan, dan berdoa kepada Tuhan,” ucap Butet.
 
Dia mendukung bahasa daerah diajarkan di sekolah. Butet mengataan penutur lokal bisa diajak terlibat.
 
“Bahasa daerah mesti diberi ruang di sekolah-sekolah. Para penutur lokal bisa membantu guru untuk mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak di sekolah,” tutur Butet.
 
Baca: 38 Bahasa Daerah Akan Jadi Objek Revitalisasi Tahun Ini
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif